Tuesday, November 10, 2020

Metode Pencatatan Persediaan dan Metode Penilaian Persediaan

metode pencatatan persediaan

Metode pencatatan persediaan diperlukan untuk memastikan pencatatan persediaan secara akurat dengan metode penilaian persediaan yang dapat diandalkan. Persediaan merupakan salah satu harta lancar perusahaan yang sangat penting, sehingga akuntansi persediaan menjadi sangat penting  buat perusahaan – perusahaan. Hampir semua bidang usaha terutama perusahaan dagang, perusahaan jasa tertentu, manufaktur, kontraktor hingga pertanian dan pertambangan.


Pengertian Persediaan untuk memahami metode pencatatan persediaan

Begitu pentingnya persediaan bagi perusahaan, sehingga apabila terjadi kesalahan metode penilaian persediaan dan metode pencatatan persediaan akan berdampak buruk baik di laporan posisi keuangan / neraca maupun di laporan laba rugi. Pada laporan posisi keuangan / neraca, nilai dari persediaan merupakan komponen yang sangat material dibandingkan dengan nilai seluruh harta lancar yang lainnya. Dan pada laporan laba rugi, nilai Harga pokok penjualan (persediaan yang dijual) merupakan komponen terbesar pengukur kinerja perusahaan pada periode tertentu.

Sebelum memahami metode pencatatan persediaan dan metode penilaian persediaan, terlebih dahulu perlu kita pahami apa definisi atau pengertian persediaan. Mengutip dari Pedoman Standard Akuntansi Keuangan atau PSAK 14 (2014), Persediaan adalah aset:

  1. Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha biasa
  2. Dalam proses produksi untuk penjualan tersebut; atau
  3. Dalam bentuk beban atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa.
Dari definisi atau pengertian persediaan tersebut diatas bisa diambil beberapa penjelasan seperti berikut ini:

  • Persediaan merupakan aset yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha biasa. Maksud dari poin 1 dan 2 diatas adalah bahwa aset yang dikategorikan sebagai persediaan merupakan aset yang mempunyai tujuan untuk dijual atau digunakan dalam proses produksi.
  • Pada poin 3, bahwa perlengkapan yang dimasukan dalam persediaan merupakan perlengkapan yang secara reguler digunakan dalam proses produksi. Bukan perlengkapan yang digunakan bersamaan dengan aset tetap atau perlengkapan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan produksi maupun aset tetap. Jadi seperti perlengkapan kantor (ATK) yang tujuannya untuk aktivitas administrasi kantor dan bukan untuk dijual, bukanlah bagian dari persediaan. Berbeda apabila ATK teresbut merupakan aset dimasukan dalam kategori persediaan dengan tujuan untuk dijual (semisal supermarket atau supplier ATK).

Klasifikasi Persediaan dalam metode pencatatan persediaan

Apabila kita ingin mengklasifikasikan persediaan maka akan bergantung dari jenis usaha perusahaan tersebut. Pada perusahaan dagang klasifikasi persediaan dagang hanya mempunyai satu klasifikasi persediaan yaitu persediaan barang dagangan / Merchandise Inventory. Dimana barang dagangan tersebut Merupakan persediaan yang dimiliki dan dalam bentuk yang sudah siap dijual tanpa proses pengolahan / produksi dalam kegiatan normal perusahaan.

Sedangkan pada perusahaan manufaktur, barang yang dimasukan dalam persediaan belum siap untuk dijual, perlu dilakukan proses lanjutan berupa produksi atau pengolahan. Sehingga perusahaan manufaktur mengklasifikasi persediaan sebagai berikut:

  1. Persediaan bahan mentah atau bahan baku (Raw Material Inventory). Merupakan bahan atau barang yang menjadi dasar dalam proses produksi atau pengolahan.
  2. Persediaan barang dalam proses (Work In Process Inventory). Merupakan barang dalam proses produksi atau pengolahan dari barang mentah.
  3. Persediaan Barang Jadi (Finished Goods Inventory). Merupakan barang sudah selesai seluruh proses produksinya dan siap untuk dijual.
Sedangkan pada perusahaan jasa seperti contoh hotel dan rumah sakit, maka persediaan mempunyai klasifikasi atas persediaan Bahan penunjang dan perlengkapan penunjang.

Perlunya kita memahami klasifikasi persediaan ini sebelum menerapkan dalam metode pencatatan persediaan.

metode pencatatan persediaan
Contoh Klasifikasi Persediaan


Akuntansi Persediaan dalam menerapkan metode pencatatan persediaan dan metode pencatatan persediaan

Sebuah perusahaan menentukan nilai persediaan pada tanggal tertentu didasarkan pada hasil perkalian dari jumlah kuantitas atau unit barang yang ada pada tanggal tersebut dengan biaya perolehan per unit barang persediaan.

Nilai persediaan = kuantitas (jumlah unit) x Biaya perolehan per unit barang

Pada dasarnya akuntansi persediaan akan membahas 2 hal utama yaitu 2 metode pencatatan persediaan dan metode penilaian persediaan seperti berikut ini:

  1. Metode pencatatan persediaan dalam penentuan kuantitas persediaan terdiri dari:
    • Metode pencatatan persediaan Periodik.
    • Metode pencatatan persediaan Perpetual.
  2. Metode Penilaian Persediaan yang juga disebut Metode Arus Biaya yang terdiri dari:
    • Metode Penilaian persediaan Identifikasi khusus.
    • Metode Penilaian persediaan Rata – Rata (Average).
    • Metode Penilaian persediaan Masuk Pertama Keluar Pertama (First in First out – FIFO).
    • Metode Penilaian persediaan Masuk Terakhir Keluar Pertama (Last In First Out – LIFO).
Dalam kondisi – kondisi khusus seperti bencana alam, kebakaran yang menyebabkan data dan dokumen hilang, maka akuntansi persediaan juga membutuhkan estimasi persediaan. Terdapat 2 Metode Estimasi Persediaan untuk kondisi khusus dalam penerapannya di metode pencatatan persediaan yaitu:

  1. Metode harga ecer / ritel.
  2. Metode Laba Kotor.


Metode pencatatan persediaan untuk penentuan Kuantitas Persediaan

Kita perlu mengetahui berapa banyak jumlah barang yang tersedia untuk dijual atau digunakan untuk proses produksi pada waktu tertentu. Hal ini sangat penting dalam pengelolaan perusahaan dan harus diketahui dalam menyusun laporan  keuangan sebagai dasar membuat keputusan. Selain mengetahui jumlah persediaan secara fisik yang menjadi milik perusahaan, haruslah diketahui dan dipastikan bahwa barang persediaan tersebut masih milik perusahaan atau bukan.

Perlunya kita memahami terlebih dahulu tentang kepemilikan persediaan barang dagangan sebelum memahami bagaimana penentuan kuantitas persediaan / jumlah fisik persediaan waktu tertentu.

Dalam sebuah transaksi atas penjualan barang terdapat istilah:

  • Barang dalam perjalanan (Goods In Transit). Barang yang terjual sudah dikirim tapi belum sampai ke tempat tujuan (pembeli), sehingga hak milik barang belum berpindah tangan. Atau Barang yang terjual sudah menjadi milik pembeli, hak milik barang sudah berpindah tangan tapi belum sampai ke perusahaan pembeli.
  • Barang Konsinyasi (Consignment). Barang konsinyasi merupakan barang yang dititipkan untuk dijual, barang tersebut masih merupakan persediaan milik penitip barang (consignor). Hingga barang tersebut terjual ke pembeli.
Untuk tujuan akuntansi persediaan, hak kepemilikan barang ditentukan pada saat awal terjadinya transaksi jual – beli. Sehingga perlunya memahami transaksi jual – beli dengan rekanan.

Apabila ditinjau dari sistem akuntansi untuk mengetahui kuantitas / jumlah / unit fisik persediaan yang dimiliki perusahaan waktu tertentu terdapat dua metode akuntansi yaitu:

  1. Metode Pencatatan Persediaan Periodik.
  2. Metode Pencatatan Persediaan Perpetual.

1. Metode pencatatan persediaan Periodik

Pada metode pencatatan persediaan periodik dimana jumlah persediaan ditentukan secara berkala (periodik) dengan cara melakukan penghitungan fisik atau lebih dikenal dengan istilah Stock Opname. Stock Opname sendiri merupakan bahasa belanda yang artinya pencatatan stok, istilah dari tata buku. Hasil dari penghitungan fisik atau stock opname dikalikan dengan harga satuan dari harga perolehan persediaan saat itu.

Dengan metode pencatatan persediaan periodik, tiap kali terjadi pembelian atas barang persediaan, barang persediaan tersebut akan dicatat dalam akun pembelian. Nantinya pada saat barang terjual atau penjualan akan dibukukan penjualan sejumlah harga penjualan atas barang yang terjual. Kemudian pada saat akhir periode untuk penyusunan laporan keuangan baru dilakukan penghitungan fisik persediaan  untuk mengetahui dan mencatat nilai persediaan akhir dan harga pokok penjualan.

Metode pencatatan periodik ini mempunyai kelebihan yaitu mudah diterapkan. Namun mempunyai kelemahan yaitu perusahaan tidak pernah tahu jumlah pasti persediaan sampai dilakukannya penghitungan fisik.

Ilustrasi: Distributor minuman menginformasikan saldo persediaan dan transaksi penjualan selama Januari 2020 sebagai berikut:

  • Persediaan awal Oktober hasil penghitungan fisik akhir bukan September sebanyak 40 botol @800.000 total Rp.32.000.000.
  • Pembelian kredit selama Januari sebanyak 200 botol dengan harga @800.000 total Rp.160.000.000.
  • Penjualan kredit selama januari sebanyak 120 botol harga jual @1.000.000 total Rp.120.000.000.
  • Saat akan dilakukan penyusunan laporan keuangan interim bulan Oktober 2020 dilakukan penghitungan fisik. Hasil penghitungan fisik 120 botol @800.000 total Rp.96.000.000.

metode pencatatan persediaan
Contoh metode pencatatan persediaan periodik


2. Metode Pencatatan Persediaan Perpetual

Pada metode pencatatan persediaan perpetual dimana pencatatan persediaan selalu diperbaharui (update) tiap kali terjadi aktivitas yang melibatkan persediaan. Mulai dari pembelian barang persediaan, perpindahan antar gudang, penjualan hingga pengiriman. Sehingga perusahaan mengetahui jumlah dan nilai atas persediaan setiap saat.

Saat dilakukan pembelian barang untuk persediaan, perusahaan akan mencatat pada akun persediaan, bukan akun pembelian. Tiap kali terjadi transaksi penjualan maka perusahaan akan mencatat dan menghitung pada akun Harga Pokok Penjualan dengan mengurangi langsung dari akun persediaan. Sama halnya dengan aktiva lancar lainnya seperti pencatatan piutang usaha, pada metode pencatatan persediaan perpetual juga membutuhkan buku besar pembantu (subsidiary ledger). Buku besar pembantu persediaan ini sebagai kontrol, dimana pencatatan mutasi persediaan berdasar item barang, kuantity barang dan harga barang.

Meskipun metode pencatatan persediaan perpetual melakukan pencatatan tiap kali terjadi aktivitas masuk keluar dan perpindahan persediaan secara up to date. Namun untuk memaksimalkan pengendalian Internal persediaan masih perlu dibutuhkan cek fisik periodik atau stock opname dan juga alat bantu seperti kartu stock. Hal ini dilakukan untuk memastikan kesesuaian antara pencatatan dengan fisik barang di gudang.  Tentang pengendalian internal persediaan akan saya bahas lebih lanjut pada tulisan berikutnya.

Ilustrasi: Distributor minuman menginformasikan saldo persediaan dan transaksi penjualan selama Januari 2020 sebagai berikut:

  • Persediaan awal Oktober hasil penghitungan fisik akhir bukan September sebanyak 40 botol @800.000 total Rp.32.000.000.
  • Pembelian kredit selama Januari sebanyak 200 botol dengan harga @800.000 total Rp.160.000.000.
  • Penjualan kredit selama januari sebanyak 120 botol harga jual @1.000.000 total Rp.120.000.000.
  • Saat akan dilakukan penyusunan laporan keuangan interim bulan Oktober 2020 dilakukan penghitungan fisik. Hasil penghitungan fisik 120 botol @800.000 total Rp.96.000.000.

metode pencatatan persediaan
contoh metode pencatatan persediaan perpetual


Metode Penilaian Persediaan atau asumsi arus biaya untuk metode pencatatan persediaan

Kenyataannya pada aktivitas perusahaan, bahwa perusahaan melakukan pembelian atas persediaan dengan harga yang bervariasi bergantung dari harga saat dilakukan pembelian.

Saat Perusahaan menerapkan salah satu metode pencatatan persediaan akan ditunjang dengan salah satu metode penilaian persediaan. Metode penilaian persediaan ini digunakan untuk menghitung atau menilai persediaan dan harga pokok penjualan.

Dalam memilih metode penilaian persediaan, perusahaan dapat memilih metode manapun tapi tetap dengan azas konsistensi. Dimana persediaan yang sejenis dapat menggunakan metode yang sama berkelanjutan. Jika persediaan yang berbeda menggunakan metode yang berbeda berkelanjutan.

Terdapat 4 metode penilaian persediaan (1 metode sudah tidak relevan untuk digunakan) seperti berikut ini:

  1. Metode Penilaian Persediaan Identifikasi khusus (Specific Identification method).
  2. Metode Penilaian Persediaan Rata – Rata Tertimbang (Weighted Average method).
  3. Metode Penilaian Persediaan Masuk Pertama Keluar Pertama (First in First out – FIFO method).
  4. Metode Penilaian Persediaan Masuk Terakhir Keluar Pertama (Last In First Out – LIFO method).

1. Metode penilaian persediaan Identifikasi khusus (Specific Identification method)

Metode identifikasi khusus ini banyak digunakan untuk persediaan barang dagang atau hasil produksi yang mempunyai keunikan dan antik. Seperti contohnya perhiasan batu berharga, barang antik, lukisan atau karya seni, hasil rancangan, hingga bangunan, rumah yang dijual developer.

Penilaiaan atas barang persediaan ini dalam akuntansi biaya dikenal dengan nama metode biaya pesanan (job order costing). Penerapan metode ini bisa dilakukan pada metode pencatatan periodik maupun metode pencatatan perpetual


2. Metode penilaian persediaan Rata – Rata Tertimbang (Weighted Average method)

Metode penilaian persediaan Rata – rata (average) ini juga dikenal dengan nama metode penilaian persediaan rata – rata tertimbang (Weight average). Dimana untuk menghitung biaya pokok barang yang akan dijual  dihitung dari:

Biaya pokok barang yang akan dijual = Total nilai persediaan / Total jumlah persediaan

Penerapan metode penilaian persediaan rata – rata untuk metode pencatatan persediaan periodik dengan metode pencatatan persediaan perpetual akan berbeda.

Apabila perusahaan menggunakan metode pencatatan persediaan periodik, maka biaya rata - rata per unit hanya akan dihitung di akhir periode. Sedangkan dalam metode pencatatan perpetual akan menghitung biaya rata - rata setiap kali terjadi pembelian.

Maka nilai persediaan akhir dan harga pokok penjualan akan berbeda antara metode pencatatan persediaan periodik dengan metode pencatatan persediaan perpetual.

Dengan ilustrasi seperti gambar dibawah ini:

metode pencatatan persediaan
contoh metode penilaian persediaan rata - rata untuk metode pencatatan persediaan


3. Metode penilaian persediaan Masuk Pertama Keluar Pertama (First in First out – FIFO method)

Saya ingatkan kembali bahwa metode ini adalah penilaian atas persediaan dan keterkaitannya dengan penghitungan HPP, sehingga tidak ada hubungannya dengan penyimpanan fisik barang. Namun Metode penilaian persediaan FIFO umumnya lebih banyak diterapkan terhadap barang persediaan yang mempunyai masa kedaluarasa dan barang yang mudah rusak. Contohnya perusahaan dagang, jasa dan Pengolahan makanan seperti makanan kemasan di retail, Bahan mentah di manufaktur pengolahan, Obat dirumah sakit dan bahan mentah di restoran dan hotel.

Secara arus barang, hal ini dilakukan untuk menghindari barang persediaan disimpan tertumpuk dibawah atau dibelakang penyimpanan sehingga terlalu lama disimpan menjadi rusak atau kedaluarsa.

Secara penilaian persediaan, metode dapat melaporkan nilai persediaan pada posisi laporan posisi keuangan (neraca) dengan harga perolehan yang terbaru. Sehingga dalam kondisi perputaran persediaan normal, nilai persediaan di neraca mendekati nilai sekarang persediaan.

Namun metode pencatatan persediaan FIFO mempunyai kelemahan, dimana harga pokok penjualan di laporan rugi laba merupakan biaya perolehan masa lalu yang ditandingkan dengan pendapatan saat ini. Jadi jika kondisi ekonomi makro mengalami inflasi yang tinggi berpengaruh terhadap harga barang dapat menimbulkan HPP rendah dan laba tinggi semu atau bias. Hal ini terjadi terutama pada barang persediaan kategori slow moving atau perputaran yang lambat.

Ilustrasi penerapan metode penilaian persediaan FIFO pada metode pencatatan persediaan periodik dan metode pencatatan persediaan perpetual:


metode pencatatan persediaan
Metode pencatatan persediaan periodik perpetual penilaian FIFO


4. Metode penilaian persediaan Masuk Terakhir Keluar Pertama (Last In First Out – LIFO method)

Pada metode penilaian persediaan LIFO menerapkan barang persediaan yang terakhir dibeli adalah barang yang dijual pertama. Sehingga barang yang dibeli pertama kali tersisa sebagai persediaan akhir. Metode ini tidak menampilkan nilai aktual persediaan secara handal.

Penggunaan LIFO lebih banyak disebabkan karena pertimbangan pajak. Dimana pada saat kondisi makro mengalami inflasi tinggi dengan kenaikan harga barang, menampilkan HPP yang tinggi dan laba rendah. Sehingga beban pajak juga rendah dibanding metode penilaian persediaan FIFO. Karena itu International Accounting Standard Board (IASB) menghilangkan metode LIFO karena dianggap tidak mencerminkan nilai aktual persediaan. Saat ini dalam International Accounting Standard (IAS) 2 dan PSAK 14 sudah tidak mengijinkan penggunaan metode LIFO.

Sehingga metode penilaian LIFO tidak lagi diterapkan dalam metode pencatatan persediaan periodik maupun metode pencatatan persediaan perpetual


Dampak kesalahan perhitungan persediaan dalam menerapkan metode pencatatan persediaan terhadap laporan keuangan

Merupakan bagian dari Siklus Akuntansi dan Sistem Informasi akuntansi, apabila pada saat menerapkan metode pencatatan persediaan terjadi kesalahan pencatatan maka menyebabkan kesalahan dalam penghitungan persediaan. Kesalahan pencatatan ini berdampak pada nilai persediaan akhir yang disajikan tidak sesuai dengan nilai seharusnya. Hal ini berdampak pada laporan posisi keuangan (neraca) dan laporan laba rugi.

Jika persediaan akhir ditampilkan dengan nilai yang terlalu rendah maka:

  • Persediaan akhir: terlalu rendah, Harga pokok Penjualan: terlalu tinggi.
  • Aset lancar: terlalu rendah, Laba kotor: terlalu rendah.
  • Total asset: terlalu rendah, Laba Bersih: terlalu rendah.
  • Saldo laba: terlalu rendah, Persentase laba: terlalu rendah.
  • Modal kerja nett: terlalu rendah.
  • Rasio Lancar: terlalu rendah.

Kesalahan menerapkan metode pencatatan persediaan dan metode penilaian persediaan ini akan berdampak pada periode berikutnya. Seperti yang kita ketahui bahwa saldo akhir neraca akan menjadi saldo awal periode berikutnya. Meskipun pada saat periode berikutnya laba rugi terkoreksi dengan sendirinya (self correction). Dan tidak memerlukan jurnal koreksi apabila kesalahan ini ditemukan 2 tahun berikutnya. Tetapi pada periode terjadinya kesalahan tersebut membuat laporan keuangan tidak akurat dan berpengaruh terhadap manajemen dalam mengambil keputusan strategis. Bagaimanapun laporan keuangan merupakan dasar bagi manajemen untuk mengambil keputusan. Dan apabila nilai kesalahan tersebut cukup signifikan maka dampaknya juga cukup besar dalam mengambil keputusan.

Bagaimana kita menerapkan pengelolaan persediaan akan selalu diawali dengan pembelian persediaan. Memastikan kendali pembelian melalui flowchart pembelian atas pembelian kredit maupun tunai. Dari flowchart pembelian ini menjadi dasar perancangan prosedur. 

Pada kondisi - kondisi tertentu digunakan metode atau cara penaksiran persediaan yang berbeda untuk kebutuhan laporan keuangan interim dan internal. hal ini diulas lebih dalam pada tulisan tentang metode estimasi persediaan.