Tuesday, October 6, 2020

Pencatatan Piutang Usaha, perannya dalam pengelolaan piutang usaha

Pencatatan piutang usaha

Pencatatan piutang usaha timbul pada awalnya karena adanya transaksi penjualan barang atau jasa secara kredit. Dimana piutang merupakan salah satu aset / harta perusahaan, yang menjadi bagian dari instrumen laporan keuangan dikategorikan sebagai “pinjaman yang diberikan dan piutang” (Loan and Receivables). Dimana pencatatan dan pengelolaan piutang perlu dilakukan dengan baik untuk menjaga aset perusahaan. Pencatatan dengan baik dan benar merupakan salah satu cara memastikan bahwa piutang dikelola dengan baik dan aman. Merupakan salah satu peran Pengendalian Internal terhadap aset perusahaan.


Pengertian Piutang Usaha

Piutang adalah klaim yang dimiliki atas pelanggan atau pihak lain untuk uang, barang atau jasa. Perusahaan mengakui dan memiliki piutang dari transaksi penjualan atas barang atau pendapatan jasa. Sedangkan bagi perbankan piutang adalah pinjaman yang diberikan kepada pihak lain, yang diakui sebagai piutang pembiayaan atau pinjaman.

Sedangkan piutang usaha adalah piutang yang timbul dari penjualan barang dan jasa secara kredit. Piutang usaha merupakan bagian dari klasifikasi piutang sebuah entitas, karena piutang mempunyai beberapa klasifikasi atas piutang.

Dimana dari jangka waktunya piutang dapat diklasifikasikan sebagai piutang lancar atau tidak lancar. Atau secara umum dapat diklasifikasikan sebagai piutang usaha, piutang wesel / wesel tagih dan piutang lain – lain. Atau dapat juga diklasifikasikan sebagai piutang dagang dan piutang non dagang. Apabila perusahaan menggunakan format laporan posisi keuangan / neraca dengan menyajikan aset berdasarkan lancar dan tidak lancar. Maka piutang jangka pendek dimasukan sebagai aset lancar dan piutang jangka panjang dimasukan sebagai aset tidak lancar.


Klasifikasi Piutang

Dari jangka waktunya, Klasifikasi Piutang dapat diklasifikasikan  sebagai:

  • Piutang jangka pendek / lancar. Perusahaan memasukan piutang sebagai piutang jangka pendek / lancar jika piutang tersebut akan tertagih dalam satu tahun atau siklus normal akuntansi.
  • Piutang jangka panjang / tidak lancar. Apabila piutang tidak dapat ditagihkan dalam satu tahun atau siklus normal akan dimasukan sebagai piutang jangka panjang /  tidak lancar.
Pada praktek pada perusahaan, klasifikasi piutang pada umumnya dapat juga diklasifikasikan menjadi:

  • Piutang Usaha (Account Receivables). Merupakan piutang dari penjualan barang dan jasa secara kredit.
  • Piutang Wesel / wesel tagih (Notes Receivables). Merupakan piutang dari sebuah perjanjian tertulis untuk menerima uang pada saat tanggal jatuh tempo. Wesel tagih ini mempunyai jangka waktu yang lebih dari satu tahun. Umumnya ini merupakan piutang perbankan.
  • Piutang lain – lain (Other Receivables). Diluar dari piutang usaha dan piutang wesel masih terdapat piutang lain – lain. Piutang lain – lain merupakan pengakuan piutang lain diluar piutang akibat penjualan barang jasa seperti contohnya piutang deviden, piutang pajak, piutang karyawan maupun piutang bunga.
Berdasarkan aktivitasnya, Klasifikasi Piutang juga dapat diklasifikasikan sebagai:

  • Piutang dagang (Trade Receivables). Semua piutang yang dihasilkan dari aktivitas perusahaan berupa penjualan kredit barang atau jasa. Piutang dagang yang dibuktikan dengan janji untuk membayar pada jangka waktu tertentu (promes / promissory note) dapat diklasifikasikan sebagai piutang wesel, namun umumnya piutang dagang merupakan piutang pelanggan tanpa ada jaminan dari pelanggan untuk membayar, sering dikenal dengan istilah piutang usaha (Account Receivables).
  • Piutang Non Dagang (Nontrade Receivables). Merupakan semua jenis piutang di luar dari piutang dagang (Trade Receivables). Seperti piutang deviden, piutang pajak, piutang bunga dan piutang karyawan.

Kalau kita rangkum dari klasifikasi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa piutang dagang adalah piutang usaha dan merupakan piutang lancar. Piutang wesel juga bisa sebagai piutang dagang juga bisa merupakan piutang lancar. Tapi piutang wesel juga bisa sebagai piutang dagang yang tidak lancar.


Pencatatan Piutang Usaha atas Potongan Penjualan dan Potongan Tunai

Pengakuan awal dari piutang usaha timbul dari transaksi penjualan barang atau jasa yang dapat dipengaruhi adanya potongan penjualan (trade discount). Setelah aktivitas transaksi penjualan akan mungkin timbul aktivitas atau transaksi lain seperti retur penjualan, penagihan hingga potongan tunai (Cash Discount).

Yang membedakan antara potongan penjualan (trade discount) dan potongan diskon (cash discount) adalah timbulnya potongan pada kejadian atau aktivitas. Penjelasannya sebagai berikut:

  1. Potongan penjualan (Trade / Sales Discounts). Potongan diberikan pada saat terjadinya transaksi penjualan barang atau jasa. Umumnya ini merupakan kebijakan perusahaan atas strategi meningkatkan volume penjualan. Potongan ini bisa karena pembelian jumlah banyak atau karena pembelian jangka panjang.
  2. Potongan tunai (Cash Discounts). Potongan yang diberikan saat terjadinya pelunasan piutang yang dibayarkan sebelum jangka waktu yang telah ditentukan dalam kesepakatan. Pada umumnya dalam perjanjian atau kontrak selain disebutkan terkait penjualan, juga menyepakati masalah pelunasan atau pembayaran piutang. Semisal disebutkan dalam kontrak, bahwa pembayaran piutang dengan kondisi 2/10 n/30. Dimana potongan tunai diberikan apabila piutang dibayarkan kurang dari 10 hari dan jangka waktu pembayaran piutang maksimal 30 hari.
Umumnya perusahaan menerapkan salah satu dari 2 jenis potongan (discount), jarang sekali atau bahkan tidak ada perusahaan menerapkan 2 jenis potongan (discount) ini pada customer yang sama, berdasarkan pengalaman saya. Apabila perusahaan sudah menyepakati potongan penjualan maka perusahaan tidak akan memberikan potongan tunai pada saat pembayaran piutang. Tapi apabila perusahaan tidak memberikan potongan penjualan maka perusahaan akan menawarkan potongan tunai pada saat pembayaran piutang. Hal ini dilakukan semata – mata sebagai bagian strategi marketing perusahaan, juga pertimbangan atas kredibilitas customer.


1. Pencatatan piutang usaha atas potongan penjualan

Seperti yang sudah dibahas diatas bahwa piutang usaha timbul karena transaksi penjualan barang atau jasa secara kredit. Sesuai prinsip pengakuan pendapatan, maka piutang diakui pada saat terjadinya transaksi penjualan. Dimana kewajiban perusahaan sudah dijalankan namun masih belum mendapatkan haknya (belum menerima pembayaran).

Berikut ini contoh jurnal Penjualan dengan potongan penjualan


Pencatatan piutang usaha
Pencatatan piutang usaha atas potongan penjualan


2. Pencatatan piutang usaha atas potongan Tunai

Pada pencatatan potongan tunai ini, perusahaan dapat melakukan 2 jenis metode pencatatan yaitu:

  • Metode Pencatatan Kotor (Gross Methods). Pada metode ini perusahaan mengakui potongan tunai sebagai pengurang penjualan sebagai sales discount untuk pencatatan potongan tunai.
  • Metode Pencatatan Bersih (Nett Methods). Potongan tunai dikurangkan secara langsung dari nilai penjualan dan piutang pada saat pengakuan penjualan dan piutang. Pada saat pembayaran piutang tidak terjadi potongan tunai maka nilai potongan tunai akan dicatat dalam akun diskon penjualan hangus (Sales discount fortfeited). Akun sales discount fortfeited ini diakui sebagai pendapatan dan beban lain – lain dalam laporan Laba rugi.
Berikut contoh Jurnal potongan tunai (Cash Discount) perbandingan Gross methods dan Nett Methods


Pencatatan piutang usaha
Pencatatan piutang usaha atas potongan tunai

Tampilan pada Laporan Laba rugi seperti berikut

Pencatatan piutang usaha
Tampilan laba rugi 


Pencatatan Piutang Usaha atas Penghapusan Piutang Tidak Tertagih 

Piutang usaha yang dilaporkan  dalam laporan posisi keuangan (Neraca) sebagai aset lancar haruslah dipastikan bahwa piutang usaha tersebut kemungkinan terbesar bisa tertagih. Apabila terdapat piutang usaha yang macet atau tidak tertagih akan menjadi beban operasional dalam laporan laba rugi. Sehingga piutang usaha yang tak tertagih tersebut dihapus dari akun piutang usaha.

Dalam PSAK 55 (2013) Disebutkan bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan diturunkan nilainya dan kerugian penurunan nilai telah terjadi . Jika dan hanya jika terdapat bukti obyektif mengenai penurunan sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut. Dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan dari aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal.

Dari hal diatas disimpulkan bahwa estimasi piutang tak tertagih harus mempunyai dasar yang obyektif dan cadangan piutang tak tertagih dicatatkan sebagai penurunan nilai piutang. Hal ini dilakukan untuk menghindari ketidak handalan dan akuratnya estimasi arus kas kedepannya. Dalam istilah PSAK, piutang tak tertagih merupakan penurunan atas nilai piutang. Terhadap metode dan jurnal penghapusan piutang tak tertagih saya ulas dalam tulisan Jurnal penghapusan piutang tak tertagih.


Peran pencatatan piutang usaha dalam pengelolaan 

Selain sebagai bagian dari Siklus Akuntansi, pencatatan piutang usaha yang akurat dan handal akan sangat membantu dalam pengelolaan piutang. Pengakuan piutang usaha terjadi pada saat transaksi penjualan barang atau jasa secara kredit. Proses ini berlanjut sehingga dipastikannya pembayaran atas penjualan kredit tersebut dapat ditagihkan dan diterima oleh perusahaan.  Dimana proses menagihkan piutang kepada pelanggan didasarkan atas pencatatan piutang usaha yang akurat dan dapat dihandalkan. Pencatatan pengakuan piutang akan muncul dalam aging atau umur piutang. Dan ini terkait dengan bagaimana pengelolaan piutang usaha hingga bisa meminimalkan kemungkinan timbulnya piutang tak tertagih.