Thursday, December 10, 2020

Metode Estimasi Persediaan, penaksiran nilai persediaan untuk kondisi tertentu

Metode Estimasi Persediaan

Metode estimasi persediaan merupakan metode atau cara penaksiran nilai persediaan pada kondisi tertentu untuk kebutuhan laporan interim dan internal. Dan melakukan perhitungan fisik atas persediaan pada saat itu dianggap tidak praktis karena jumlah persediaan yang sangat banyak. Dengan terbatasnya waktu dalam melakukan pelaporan interim atau bulanan maka digunakan metode estimasi persediaan.


Metode Estimasi Persediaan sebagai teknik penaksiran persediaan

Seperti yang sudah saya ulas dalam tulisan Metode Pencatatan Persediaan dan metode penilaian persediaan. Dimana perusahaan yang menerapkan metode pencatatan periodik akan melakukan cash opname / perhitungan fisik persediaan. Hal ini dilakukan untuk menghitung nilai persediaan dan harga pokok penjualan.

Namun saat ini perusahaan banyak melakukan stock opname / inventory taking / perhitungan fisik persediaan untuk memastikan nilai persediaan, harga pokok penjualan dan kepastian persediaan masih milik perusahaan. Hal ini dilakukan oleh perusahaan yang menerapkan pencatatan periodik maupun pencatatan perpetual.

Perhitungan fisik ini biasanya dilakukan secara annual atau setahun 2 kali karena jumlah persediaan yang sangat banyak. Membutuhkan waktu dan tenaga untuk melakukan perhitungan fisik atas persediaan yang jumlahnya banyak. Sehingga apabila perhitungan fisik persediaan dibutuhkan untuk laporan keuangan interim atau bulanan, maka sangat tidak praktis untuk dilakukan. Terutama bagi perusahaan yang menerapkan pencatatan persediaan periodik dapat menggunakan metode estimasi persediaan.

Begitu pula terhadap perusahaan yang mengalami bencana yang menyebabkan hilangnya data dan dokumen dan fisik persediaan, yang jelas tidak mungkin melakukan perhitungan fisik. Dibutuhkan teknik penaksiran persediaan dalam menghitung besarnya kerugian karena rusaknya atau hilangnya persediaan. Dalam hal ini digunakan metode estimasi persediaan.

Metode estimasi persediaan ini juga bisa digunakan berdampingan dengan stock opname sebagai pengecekan internal atas keabsahan nilai persediaan yang dihasilkan dari sistem akuntansi perpetual. Untuk memastikan output dari sistem apakah menghasilkan data yang akurat atau tidak. Karena sebaik apapun sistem pasti terdapat bug atau celah, belum lagi ditambah dengan human error.


Penerapan 2 Metode Estimasi Persediaan

Penerapan metode estimasi persediaan ini merupakan pilihan apabila perusahaan tidak melakukan perhitungan fisik persediaan karena kondisi tertentu. Sekali lagi saya ingatkan bahwa penerapan metode estimasi persediaan hanya dilakukan untuk kebutuhan laporan keuangan interim atau bulanan atau tidak adanya data dan fisik persediaan.

Bagaimanapun yang namanya estimasi atau penaksiran adalah sebuah perkiraan yang tidak 100% sesuai dengan aktualnya, namun  setidaknya diusahakan mendekati aktualnya.

Beberapa kondisi tertentu yang dijabarkan diatas dapat dibedakan dengan penerapan 2 metode estimasi persediaan berikut ini:

  1. Metode estimasi persediaan eceran atau ritel (Retail Method): Digunakan untuk mengestimasi persediaan retail yang beragam dan jumlah yang sangat banyak.
  2. Metode estimasi persediaan laba kotor (Gross Profit Method): Digunakan untuk laporan keuangan interim atau kebutuhan internal atau dalam keadaan kehilangan data persediaan.


1. Metode Estimasi Persediaan Ritel / Eceran (Retail Method)

Metode estimasi persediaan ritel digunakan oleh perusahaan yang bergerak bidang usaha ritel, baik itu supermarket maupun departemen store. Dimana barang mempunyai banyak ragamnya, jumlah persediaan yang banyak dan perputaran persediaan yang tinggi. Sehingga sebagian perusahaan menganggap tidak praktis apabila melakukan perhitungan fisik persediaan.

Dalam menerapkan metode estimasi persediaan ritel, kuncinya pada penentuan Rasio Biaya terhadap Harga Ritel (Cost to retail ratio / CRR). Rasio ini digunakan untuk mengkonversi nilai persediaan pada harga ritel menjadi harga perolehan. Karena rasio ini mencerminkan hubungan antara biaya barang tersedia untuk dijual dengan harga ritel barang.

2 jenis Metode Estimasi Persediaan ritel yaitu:

  1. Metode konvensional (Conventional Method). Dalam perhitungannya menyertakan markup tetapi tidak menyertakan / sebelum markdown, sehingga nilai akhir persediaan lebih rendah. CRR / Cost to Retail Ratio = Biaya barang tersedia untuk dijual / (Harga ritel + Markup).
  2. Metode Biaya (Cost Method). Dalam perhitungannya menyertakan markup dan markdown, sehingga hasil nilai akhir persediaan lebih tinggi. CRR / Cost to Retail Ratio = Biaya barang tersedia untuk dijual / (Harga ritel + Markup + Markdown).

Pada bidang usaha ritel, umum menggunakan markup dan markdown dalam aktivitas penjualan, untuk mengikuti kondisi pasar, daya beli atau pesaing dalam menentukan harga jual. Termasuk barang yang memang mendekati kedaluwarsa dan barang display (sudah terbuka dari kardus) untuk dijual cepat. Dalam hal persediaan penggunaan markup dan markdown untuk menghitung persediaan agar mendekati kondisi yang sebenarnya baik persediaan siap jual kondisi bagus maupun yang sudah usang.


metode estimasi persediaan
Metode Estimasi Persediaan Ritel perbandingan metode konvensional dan metode biaya

Perlu diingat bahwa metode ini tetap tidak bisa menyaingi akurasinya dengan hasil perhitungan fisik, karena estimasi atau penaksiran. Dimana apabila markup tidak konsisten maka hasil penghitungan pun menjadi tidak akurat. Mark up ini didapat dari histori markup sebelumnya hingga periode berjalan. Dan markup dalam usaha ritel kebanyakan tidak bisa konsisten karena tergantung pasar dan pesaing.


2. Metode Estimasi Persediaan Laba Kotor (Gross Profit Method)

Metode estimasi persediaan laba kotor menggunakan taksiran laba kotor untuk perkiraan nilai persediaan akhir periode tertentu. Pada metode ini didasarkan dari histori hubungan antara penjualan bersih dengan harga pokok penjualan, dimana prosentasenya tidak terlalu fluktuatif dari periode ke periode. Sehingga bisa diasumsikan prosentase yang sama besar antar periode.

Pada metode ini kita terlebih dahulu mencari margin laba bruto per unit dengan 2 cara yaitu:

  • Margin atas ritel = (laba bruto per unit dibagi harga jual per unit) x 100%. Digunakan untuk menghitung estimasi laba kotor. Atau
  • Margin atas biaya = (laba bruto per unit dibagi biaya per unit) x 100%. Digunakan untuk menghitung estimasi Harga Pokok Penjualan.
Setelah didapatkan margin atas ritel dan margin atas biaya maka bisa diperhitungkan estimasi laba kotor atas penjualan, estimasi Harga pokok penjualan dan estimasi persediaan akhir. 

Dengan langkah - langkah sebagai berikut:

Langkah 1: Estimasi Laba kotor atas penjualan = Margin atas ritel x Penjualan

Langkah 2: Estimasi HPP = Laba kotor atas penjualan / Margin atas biaya

Atau

Langkah 2: Estimasi HPP = Penjualan - Laba Kotor

Langkah 3: Estimasi Persediaan Akhir = Barang tersedia untuk dijual – HPP


metode estimasi persediaan
Contoh Metode Estimasi Persediaan Laba Kotor

Dari metode estimasi persediaan yang sudah dibahas diatas, sekali lagi perlu diingat bahwa metode ini digunakan untuk menaksir atas kondisi – kondisi tertentu. Namun hasil yang didapat dari metode estimasi ini tetap tidak seakurat dibandingkan hasil dari perhitungan fisik persediaan. Maka perlunya Stock opname untuk memastikan atas nilai persediaan dan kepastian persediaan memang benar milik perusahaan. Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari penerapan pengendalian internal persediaan.