Saturday, May 29, 2021

Laporan Laba Rugi, mengukur kinerja manajemen perusahaan

laporan laba rugi
 

Laporan laba rugi menjadi salah satu alat bagi pemakainya untuk mengukur kinerja perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang diharapkan. Meskipun begitu, laporan laba rugi memiliki keterbatasan dalam penyajian informasi keuangan. Keterbatasan – keterbatasan ini perlu dipahami oleh pemakainya dalam mengambil keputusan berdasarkan informasi yang disajikan.


Pengertian dan kegunaan laporan laba rugi

Laporan laba rugi (Income Statement) adalah laporan yang menyajikan ukuran keberhasilan operasi perusahaan (kinerja) selama periode tertentu.

Berdasar pada tujuan laporan keuangan, melalui laporan laba rugi dapat diketahui:

  1. Besarnya tingkat profitabilitas yang dihasilkan oleh investee bagi para investor.
  2. Kelayakan kredit debitor yang akan dipertimbangkan oleh para kreditor.
  3. Penetapan pajak yang akan disetorkan ke kas negara yang diperoleh berdasarkan laba bersih.
Ukuran laba menggambarkan kinerja manajemen dalam menghasilkan profit untuk membayar bunga kredit, dividen investor dan pajak pemerintah. Selain itu, informasi atas laba, juga dapat dipakai untuk melakukan estimasi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba di masa yang akan datang, menaksir resiko dalam berinvestasi dan lain – lain.

Mengingat kembali bahwa tujuan dari pelaporan keuangan adalah memberikan informasi yang berguna bagi investor dan kreditor dalam pengambilan keputusan investasi dan pemberian kredit. Selain itu dalam kerangka konseptual akuntansi juga disebutkan bahwa informasi mengenai laba perusahaan (yang diukur melalui accrual accounting) dapat memberikan gambaran yang lebih baik dalam memprediksi kinerja perusahaan di masa depan daripada informasi mengenai penerimaan dan pengeluaran kas.

Laba tidak sama dengan jumlah kas yang dihasilkan dari kegiatan operasi perusahaan. Kebanyakan laba terkait dengan akuntansi akrual, sehingga besarnya laba dan arus kas dari operasi adalah hal yang jelas berbeda.

Dengan mengkaji pendapatan dan beban, investor dapat mengetahui bagaimana kinerja perusahaan dan membandingkannya dengan kinerja investasi lain. Dengan demikian para investor dapat memutuskan alternatif investasi yang lebih baik. Dengan menginvestasikan ke perusahaan yang mempunyai kinerja yang lebih baik, untuk menjaga keberlangsungan dan peningkatan investasinya.


Keterbatasan Laporan Laba Rugi

Pemakai laporan laba rugi juga harus memahami keterbatasan dalam laporan laba rugi. Dimana laba bersih sebagai hasil penandingan antara beban dan pendapatan, merupakan suatu estimasi (perhitungan) dan mencerminkan sejumlah asumsi.

Keterbatasan laporan laba rugi diantaranya adalah:

  1. Pos – pos yang tidak dapat diukur secara akurat, tidak dilaporkan. Praktek yang berlangsung saat ini melarang pengakuan pos pos tertentu ketika menentukan laba, meskipun pos – pos ini cukup mempengaruhi kinerja perusahaan. Sebagai contoh pada saat terjadi perubahan nilai sementara (harga pasar / nilai wajar), keuntungan dan kerugian yang belum terealisasi atas sekuritas investasi tertentu (sekuritas untuk dijual) tidak dicatat dalam laporan keuangan. Mengingat ketidakpastian mengenai realisasi atas perubahan nilai tersebut sampai sekuritas benar – benar terjual.
  2. Laba dipengaruhi oleh metode akuntansi yang digunakan. Salah satu komponen laporan laba rugi adalah beban dan sebuah item dalam beban akan dapat dibandingkan (memiliki daya banding). jika  hal itu digunakan metode akuntansi yang sama dalam mencatat dan melaporkan item tersebut. Sebagai contoh adalah metode penyusutan aset. Meskipun aset yang sama namun terdapat perbedaan penerapan metode penyusutan pada periode yang berbeda, maka dipastikan beban penyusutan untuk tiap periodenya pasti berbeda. Meskipun faktor penentu berupa beban penyusutan berupa harga perolehan, nilai residu dan masa manfaat yang sama.
  3. Laba yang dipengaruhi oleh faktor estimasi melibatkan pertimbangan subyektif manajemenPada prakteknya seringkali manajemen harus menggunakan pertimbangan subyektifnya untuk menetapkan besarnya estimasi atas suatu peristiwa akuntansi. Berdasarkan prinsip – prinsip akuntansi yang berlaku umum, estimasi ini dapat ditetapkan secara subyektif dan rasional. Sebagai contoh adalah estimasi besarnya nilai residu atau nilai sisa dan masa manfaat aset tetap. Estimasi yang berbeda tentu saja akan menghasilkan beban penyusutan dan laba yang berbeda. Contoh lainnya adalah pengukuran biaya garansi dan beban piutang tak tertagih.


Pengakuan pendapatan dan keuntungan dalam laporan laba rugi

Berdasarkan akuntansi akrual, pengakuan atas pendapatan tidak harus menunggu sampai kas diterima. Pada kerangka konseptual akuntansi telah mengidentifikasi 2 kriteria dalam menentukan pendapatan diakui:

  1. Telah direalisasi atau dapat direalisasi. Pendapatan dikatakan “telah direalisasi” apabila barang atau jasa telah dipertukarkan dengan kas. Pendapatan dikatakan “dapat direalisasi”, apabila aset yang diterima dapat dikonversi dengan kas (janji pembayaran yang sah).
  2. Telah dihasilkan atau telah terjadi. Pendapatan dianggap “telah dihasilkan” atau “telah terjadi” apabila perusahaan telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk mendapatkan haknya atas pendapatan. Ketika perusahaan telah memberikan sebagian besar barang/jasa yang dijanjikan ke pelanggan. (dalam hal ini, pendapatan dikatakan “telah dihasilkan” atau “telah terjadi” melalui penyelesaian substansial aktivitas yang terlibat dalam proses pembentukan pendapatan).
Kedua kriteria tersebut terpenuhi pada saat penjualan.

Sebagai pengecualian, pendapatan dapat juga diakui pada saat:

  1. Proses produksi masih berlangsung. Pengakuan pendapatan yang dilakukan pada saat sebelum kontrak/proyek selesai, diperbolehkan khususnya untuk kontrak konstruksi jangka panjang. Jika kontrak dimuka dan penyelesaianya melebihi satu tahun maka metode persentase penyelesaian proyek atau metode kinerja proporsional diterapkan untuk mengakui pendapatan.
  2. Akhir produksi. Pendapatan diakui setelah proses produksi tapi sebelum penjualan terjadi. Jika pasar atas produk yang dihasilkan telah tersedia dan penjualan praktis terjamin tanpa memerlukan usaha yang berarti. Contohnya logam mulia, adanya jaminan pasar dan kepastian harga dari pemerintah. Pendapatan diakui ketika proses penambangan telah selesai. Karena proses pembentukan pendapatan dianggap telah selesai (secara substansial) mengingat adanya kepastian penjualan.
  3. Kas diterima. Pendapatan juga diakui pada saat kas diterima, jika tingkat kolektibilitas (tertagihnya) piutang atas produk/jasa yang dijual meragukan. Dalam hal ini pendapatan diakui pada saat kas diterima. Contoh: penjualan real estate dengan metode penjualan cicilan (Installment sales method). Penerimaan kas terjadi melalui cicilan secara berkala sepanjang periode waktu yang lama. Pengakuan pendapatan menggunakan cicilan dapat dibenarkan jika resiko tidak tertagihnya piutang begitu besar.

Pengakuan Beban dan Kerugian dalam laporan laba rugi

Beberapa beban secara langsung terkait dengan pendapatan dan harus dapat diakui dalam periode yang sama. Pengeluaran – pengeluaran lainnya dapat diakui sebagai beban untuk periode berjalan karena terkait dengan pendapatan dimasa mendatang, sehingga harus diakui sebagai aset terlebih dahulu (dikapitalisasi).

Beban lainnya tidak terkait dengan pendapatan tertentu dan akan diakui dalam periode ketika beban tersebut dibayarkan atau telah terjadi.

Secara garis besar pengakuan beban dapat dibagi ke dalam 3 kategori yaitu:

1. Penandingan langsung (direct matching)

Mengaitkan beban dengan pendapatan tertentu. Sebagai contoh Harga pokok penjualan merupakan beban langsung yang dapat ditandingkan dengan pendapatan yang dihasilkan dari penjualan barang. Beban ini dilaporkan dalam periode yang sama sebagaimana pendapatan penjualan diakui. Demikian halnya dengan beban pengiriman barang (ongkos angkut keluar) dan komisi penjualan yang biasanya terkait langsung dengan pendapatan penjualan.

Beban langsung tidak hanya meliputi beban – beban yang telah terjadi tapi juga beban yang diantisipasi yang terkait langsung dengan pendapatan periode berjalan. Contoh setelah barang dikirim, masih ada beban penagihan piutang, beban kerugian piutang tak tertagih dan beban garansi atas barang rusak atau cacat. Beban – beban ini terkait langsung dengan pendapatan penjualan dan oleh sebab itu seharusnya diestimasi dan ditandingkan dengan pendapatan penjualan dalam periode berjalan.

2. Alokasi secara sistematis dan rasional (Systematic and rational allocation)

Pengakuan beban ini melibatkan pengeluaran modal yang memiliki masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Pengeluaran modal (capital expenditure) adalah biaya – biaya yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh aset, meningkatkan efisiensi operasional dan kapasitas produksi aset tetap serta memperpanjang masa manfaat aset tetap tersebut. Pengeluaran modal ini tidak dibebankan secara langsung sebagai beban melainkan dikapitalisasi sebagai aset. Nantinya secara sistematis dan rasional harga perolehan aset tetap akan dialokasikan menjadi beban pada masing – masing periode yang menerima manfaat.

3. Pengakuan segera (Immediate recognition)

Pengakuan beban ini dilakukan atas beban – beban yang hanya memberikan manfaat dalam periode ketika beban tersebut dibayarkan atau terjadi dan tidak terkait dengan pendapatan tertentu, tapi secara langsung membantu menciptakan pendapatan. Contoh beban umum dan administrasi. Pengakuan segera juga dapat dilakukan ketika adanya ketidakpastian yang sangat tinggi mengenai manfaat ekonomi di masa mendatang. Contohnya biaya riset dan pengembangan, dimana biaya ini mungkin akan memberikan manfaat signifikan di masa depan. Tapi perolehan atas manfaat sangat tidak pasti. Biaya riset ini akan langsung diakui pada periode dikeluarkannya.


Dengan kata lain biaya riset seharusnya diperlakukan sebagai pengeluaran pendapatan (revenue expenditure= biaya-biaya yang hanya memberi manfaat dalam periode berjalan). Sehingga biaya yang dikeluarkan tidak dikapitalisasi atau ditangguhkan sebagai aset di neraca, melainkan langsung dibebankan pada periode berjalan.

Kebanyakan pengakuan atas kerugian atau loss juga masuk kategori pengakuan segera. Karena kerugian dari transaksi peripheral (transaksi diluar operasi utama) atau transaksi insidentil (transaksi yang keterjadiannya jarang), maka kerugian tidak terkait langsung dengan pendapatan. Contoh kerugian atas penjualan aset, penghapusan aset tetap, penebusan utang obligasi, penjualan piutang usaha dan force majeure.


Format laporan laba rugi

Laba bersih berasal dari transaksi pendapatan, beban, keuntungan dan kerugian. Transaksi – transaksi ini diiktiarkan dalam laporan laba rugi. Pendekatan transaksi ini dikenal sebagai metode penandingan (matching method). Laba yang dihasilkan dari selisih antara sumber daya masuk (pendapatan dan keuntungan) dengan sumber daya keluar (beban dan kerugian) selama periode tertentu.

Unsur – unsur utama laporan laba rugi adalah sebagai berikut:

  1. Pendapatan adalah arus masuk aset atau peningkatan atas aset atau penyelesaian kewajiban entitas (atau kombinasi keduanya) dari pengiriman barang, jasa atau aktivitas lainnya yang merupakan operasi utama perusahaan. Pendapatan bisa dalam berbagai bentuk antara lain seperti penjualan, honor, bunga, deviden dan sewa (bergantung bidang usahanya).
  2. Beban adalah arus keluar aset atau penggunaan lainnya atas aset atau terjadinga (munculnya) kewajiban entitas (atau kombinasi keduanya) yang disebabkan oleh pengiriman atau pembuatan barang, jasa atau aktivitas lainnya yang merupakan operasi utama perusahaan.
  3. Keuntungan adalah kenaikan dalam ekuitas (aset bersih) entitas yang ditimbulkan oleh transaksi peripheral atau transaksi insidentil dan dari seluruh transaksi lainnya serta peristiwa maupun keadaan lainnya yang mempengaruhi entitas, tidak termasuk yang berasal dari pendapatan atau investasi pemilik.
  4. Kerugian adalah penurunan dalam ekuitas (aset bersih) entitas yang ditimbulkan oleh transaksi peripheral atau transaksi insidentil dan dari seluruh transaksi lainnya serta peristiwa maupun keadaan lainnya yang mempengaruhi entitas, tidak termasuk yang berasal dari beban atau distribusi pemilik.
Format laporan laba rugi dapat disusun dalam dua bentuk pilihan yaitu:

1. Format laporan laba rugi bentuk langsung (Single step)

Laporan laba rugi ini menekankan pada total pendapatan dan total beban sebagai faktor penentu laba/rugi bersih. Pendapatan yang dari kegiatan normal bisnis perusahaan maupun yang bukan akan digabung menjadi satu jumlah sebagai total pendapatan. Demikian juga dengan beban, mulai dari harga pokok penjualan, beban penjualan, beban umum dan administrasi hingga beban bunga akan digabung menjadi satu jumlah sebagai total beban.

Dalam laporan laba rugi bentuk langsung, tidak merinci besarnya laba kotor, laba operasional, pendapatan dan beban lain – lain. Keunggulan dari bentuk langsung terletak dari kesederhanaan penyajian dan tidak ada implikasi bahwa satu jenis pos pendapatan atau beban lebih diprioritaskan dari yang lainnya. Dengan demikian akan menghilangkan masalah klasifikasi yang bisa muncul.

laporan laba rugi
Laporan laba rugi single step


2. Format laporan laba rugi bentuk bertahap (multiple step)

Sedangkan untuk laporan laba rugi dengan bentuk bertahap menunjukkan tahapan – tahapan dalam menentukan laba bersih. Yang umumnya terdiri dari:

  • Pendapatan / penjualan bersih akan dikurangkan dengan harga pokok penjualan untuk menentukan besarnya laba kotor.
  • Laba kotor akan dikurangkan dengan beban operasional yang terdiri dari beban penjualan dan beban umum dan administrasi untuk menentukan besarnya laba operasional.
  • Laba operasional ditambahkan pendapatan dan keuntungan lain – lain dan dikurangkan beban dan kerugian lain – lain untuk menentukan besarnya laba sebelum pajak.
  • Laba sebelum pajak dikurangkan dengan pajak untuk diperoleh laba bersih.
Dalam laporan laba rugi bentuk bertahap bagian operasi dipisahkan dengan bagian non operasi.

laporan laba rugi
Laporan laba rugi multiple step

Penyusunan laporan laba rugi sendiri merupakan bagian dari siklus akuntansi, dimana terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan. Yang pada akhirnya dari tahapan yang dilakukan tersusun laporan keuangan berupa laporan laba rugi, laporan posisi keuangan / neraca dan laporan arus kas.