Tuesday, April 20, 2021

Kerangka konseptual akuntansi keuangan, acuan penyusunan standar akuntansi keuangan

kerangka konseptual akuntansi
 

Kerangka konseptual akuntansi merupakan suatu sistem yang koheren dari tujuan dan fundamentalis yang saling terkait yang dapat mengarah pada standar yang konsisten dan yang menentukan sifat, fungsi dan batasan akuntansi keuangan dan laporan keuangan. Dimana kerangka konseptual akuntansi keuangan menjadi acuan dalam menyusun dan menerbitkan standar akuntansi keuangan.


Pengertian kerangka konseptual akuntansi

Sebuah negara perlu memiliki konstitusi sebagai dasar penyelenggaraan pemerintahan suatu negara  dan sebagai pedoman pokok penyusunan peraturan perundang undangan. Begitu halnya dengan akuntansi yang memerlukan sebuah acuan atau pedoman dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan berupa kerangka konseptual akuntansi keuangan.

Kerangka konseptual (conceptual framework) ini berisikan konsep dasar penyusunan standar akuntansi yang harus diikuti dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan bagi pemangku kepentingan (stakeholders). Khususnya bagi pihak berkepentingan di luar manajemen perusahaan.

FinancialAccounting Standards Board (FASB) mendefinisikan kerangka konseptual akuntansi seperti berikut ini: a coherent system of interrelated objectives and fundamentalis that can lead to consistent standards and that prescribes the nature, function and limits of financial accounting and financial statement”. (suatu sistem yang koheren dari tujuan dan fundamentalis yang saling terkait yang dapat mengarah pada standar yang konsisten dan yang menentukan sifat, fungsi dan batasan akuntansi keuangan dan laporan keuangan).

Sedangkan dalam framework for the preparation and presentation of financial statements yang disusun oleh International Accounting Standards Committee (IASC), telah diadopsi penuh oleh komite Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) atau Dewan Standard Akuntansi Keuangan (DSAK) IAI. Framework tersebut digunakan sebagai dasar dalam penyusunan International Financial Reporting Standards (IFRS).

Selanjutnya DSAK IAI akan mengadopsi Conceptual Framework (kerangka konseptual akuntansi) versi tahun 2010 yang disusun oleh International Accounting Standard Boards (IASB).

Pemahaman kerangka konseptual akuntansi ini sangat penting untuk mempelajari dan menerapkan akuntansi keuangan.


Perlunya dan kebutuhan akan kerangka konseptual akuntansi

Penetapan suatu standar harus berlandaskan dan berhubungan dengan serangkaian konsep atau prinsip serta tujuan fundamental, agar standar yang ditetapkan mempunyai manfaat. Kerangka konseptual akuntansi yang baik akan memungkinkan dewan standar akuntansi untuk menerbitkan standar – standar yang berguna dan konsisten dari waktu ke waktu.

Sekelompok standard – standar dan aturan – aturan yang dihasilkan harus koheren. Karena standar dan aturan tersebut dibangun dengan pondasi yang sama yaitu kerangka konseptual. Kerangka konseptual akan meningkatkan pemahaman dan keyakinan para pengguna laporan keuangan atas pelaporan keuangan. Dan akan menaikan komparabilitas antar laporan keuangan.

Begitu juga apabila ada masalah – masalah praktis yang baru, akan dapat dipecahkan secara cepat. Jika mengacu pada kerangka konseptual yang telah ada. Melalui pertimbangan yang baik dan dengan bantuan kerangka konseptual yang diterima secara universal. Praktisi akuntansi dapat terfokus pada perlakuan yang rasional dan dapat diterima.


Peran dan tujuan kerangka konseptual akuntansi

Kerangka konseptual akuntansi mempunyai tujuan dan peran sebagai acuan untuk digunakan bagi:

  • Badan atau komite atau dewan penyusun standar akuntansi.
  • Penyusun laporan keuangan, dalam menghadapi suatu kasus yang belum atau tidak jelas diatur dalam suatu standar akuntansi yang berlaku.
  • Auditor dalam menentukan audit opini atas laporan keuangan.
  • Pemakai laporan keuangan, dalam menafsirkan informasi yang tersaji dalam laporan keuangan yang disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

3 tingkat Kerangka konseptual akuntansi

Kerangka konseptual akuntansi dan penyajian laporan keuangan berisi dan menjelaskan konsep dasar tentang :

1. Tingkat pertama: Tujuan dasar

Pada tingkat pertama sebagai tujuan dasar yaitu: Tujuan laporan keuangan. Pada tujuan dasar ini membahas bagaimana Tujuan laporan keuangan sebagai tujuan dasar dapat memberikan informasi yang berguna bagi para penggunanya. Dimana informasi tersebut digunakan dalam mengambil keputusan – keputusan strategis dalam aktivitas bisnis, ekonomi da perusahaan. Tujuan dasar ini sesuai dengan tujuan dan sasaran akuntansi.

2. Tingkat kedua: Konsep – konsep fundamental

Di tingkat kedua sebagai konsep fundamental yaitu: yaitu: Karakteristik kualitatif laporan keuangan dan unsur– unsur laporan keuangan. Pada tingkat kedua dimana konsep – konsep fundamental membahas bagaimana tujuan dan sasaran pada tingkat pertama diimplementasikan pada tingkat ketiga. Diantara kedua tingkat ni diperlukan pilar – pilar konseptual yang menjelaskan karakteristik kualitatif dan mendefinisikan unsur – unsur laporan keuangan. Pilar – pilar konseptual ini akan membentuk jembatan  antara mengapa akuntansi (tujuan) dengan bagaimana akuntansi (pengakuan dan pengukuran).

3. Tingkat Ketiga: Konsep – konsep pengakuan dan pengukuran 

Tingkat kedua sebagai konsep - konsep pengakuan dan pengukuran terdiri dari: asumsi dasar akuntansi, prinsip dasar akuntansi dan kendala – kendala. Pada tingkat ketiga ini terdiri dari konsep – konsep yang dipakai untuk mengimplementasikan tujuan dasar. Konsep – konsep ini menjelaskan apa, kapan, dan bagaimana unsur – unsur dan kejadian keuangan harus diukur, dan dilaporkan dalam sistem akuntansi.


kerangka konseptual akuntansi
Piramid kerangka konseptual


Standar akuntansi mengungguli kerangka konseptual akutansi

Kerangka konseptual akuntansi bukanlah sebuah standar akuntansi keuangan, untuk itu dalam prakteknya sehari – hari standar akuntansi keuangan mengungguli kerangka konseptual akuntansi keuangan.

semisal apabila kerangka konseptual adalah Undang Undang Dasar (UUD), maka standar akuntansi keuangan sepadan dengan undang – undang (UU). Di mana penyusunan undang – undang (UU) harus berlandaskan dan tidak boleh bertentangan dengan UUD. Namun tidak berarti bahwa dalam melakukan tindakan hukum, orang dapat langsung berpegang pada pasal dalam UUD.

Seperti halnya UUD, kerangka konseptual hanya menjelaskan konsep dasar. Dan tidak mengatur suatu permasalahan akuntansi secara khusus dan detail. Untuk itu, apabila terjadi pertentangan atau selisih penafsiran antar standar akuntansi keuangan dengan kerangka konseptual, maka standar akuntansi harus menggungguli kerangka konseptual akuntansi.