Monday, May 10, 2021

Prinsip dasar akuntansi, bagian dari konsep pengakuan dan pengukuran

prinsip dasar akuntansi

Prinsip dasar akuntansi memberikan sebuah pedoman dalam konsep pengakuan dan pengukuran laporan keuangan, selain asumsi dasar akuntansi. Lebih memberikan bagaimana laporan keuangan disajikan dengan pengakuan dan pengukuran atas pos - pos laporan keuangan. Sehingga nantinya informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat bernilai guna yang mampu mempengaruhi penilaian dan keputusan pemakai laporan keuangan.


Konsep pengakuan dan pengukuran antara lain adalah prinsip dasar akuntansi

Seperti yang sudah diulas dalam tulisan asumsi dasar akuntansi, dimana dalam kerangka konseptual akuntansi terdapat konsep pengakuan dan pengukuran yang salah satunya prinsip dasar akuntansi. Konsep pengakuan dan pengukuran ini untuk mencapai tujuan dasar dari kerangka konseptual akuntansi yaitu tujuan laporan keuangan. Namun untuk mencapai ini dibutuhkan pilar – pilar berupa konsep fundamental yaitu karakteristik kualitatif laporan keuangan dan unsur – unsur laporan keuangan.

Sebagaimana bagian dari konsep pengakuan dan pengukuran, prinsip dasar akuntansi akan menjelaskan apa bagaimana dan mengapa unsur – unsur serta kejadian keuangan harus diakui dan diukur.

Konsep pengakuan dan pengukuran yang merupakan tingkat ketiga dari kerangka koseptual akuntansi salah satunya adalah prinsip dasar akuntansi. Prinsip dasar akuntansi ini juga berfungsi sebagai pedoman dalam menanggapi isu – isu pelaporan keuangan yang kontroversial secara rasional. Konsep ini terdapat dalam standard finance accounting concepts (SFAC) no 5 yang diterbitkan oleh FSAB.


Prinsip dasar akuntansi dalam kerangka konseptual

Prinsip dasar akuntansi adalah pendekatan umum yang dipakai dalam mengakui dan mengukur transaksi bisnis serta peristiwa ekonomi (peristiwa akuntansi).

Terdapat 4 Prinsip dasar akuntansi yang digunakan untuk mencatat transaksi, yaitu:

  1. Prinsip Biaya histori atau objektivitas (Historical cost principle)
  2. Prinsip pengakuan pendapatan (Revenue recognition principle)
  3. Prinsip penandingan (Matching principle)
  4. Prinsip pengungkapan penuh (Full disclosure principle)
Dengan penjelasan sebagai berikut:

1. Prinsip Biaya histori atau objektivitas (Historical cost principle)

Pada prinsip dasar dasar akuntansi pertama yaitu prinsip biaya histori. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya dimana prinsip dasar akuntansi ini memiliki keterkaitan dengan asumsi dasar akuntansi. Terutama asumsi unit moneter dan kesinambungan usaha.

Perlu kita tahu bahwa berdasarkan prinsip akuntansi berlaku umum (GAAP) mengharuskan sebagian besar aset dan kewajiban diperlakukan dan dilaporkan berdasarkan harga perolehan. Harga perolehan atau biaya histori ini memiliki keunggulan lebih, yaitu dapat diandalkan dibandingkan alat pengukur yang lain.

Secara umum pengguna laporan keuangan lebih memilih biaya histori karena tolak ukur yang dapat dipercaya. Harga perolehan akan memberikan angka yang sama bagi siapapun, juga untuk melaporkan harga beli sebuah aset yang sama. Ini yang disebut objektif.

Berbeda dengan penentuan aset berdasar nilai wajar, dimana akan dinilai berbeda oleh orang yang berbeda. Ini sangat bersifat subjektif. Dalam praktek, nilai wajar mungkin berguna bagi aset dan kewajiban jenis dan usaha tertentu. Contohnya securitas investasi dan jenis persediaan tertentu.

Selain itu terkadang nilai atas persediaan yang lama menjadi turun sebagai akibat dari perubahan teknologi dan mode yang berkembang pesat. Ketika harga pokok untuk membeli barang yang sama pada saat ini (harga pasar) lebih kecil dibandingkan dengan harga perolehan (cost) pada saat barang pertama kali dibeli, maka metode harga yang terendah antara harga perolehan dengan harga pasar (lower of cost or market method) yang akan digunakan untuk menilai persediaan.

Saat ini pembuat standar akuntansi mulai beralih kepada penggunaan pengukuran nilai wajar dalam laporan keuangan. Mereka berkeyakinan bahwa informasi yang disajikan berdasarkan nilai wajar ternyata lebih relevan bagi pengguna laporan keuangan dibanding biaya histori. Meskipun prinsip biaya histori masih tetap menjadi dasar penilaian utama namun pencatatan dan pelaporan informasi dengan menggunakan nilai wajar cenderung semakin meningkat.


2. Prinsip pengakuan pendapatan (Revenue recognition principle)

Prinsip dasar akuntansi yang kedua ini memberikan gambaran dalam pengakuan pendapatan. Kerangka konseptual akuntansi mengidentifikasi 2 kriteria yang seharusnya dipertimbangkan dalam menentukan pendapatan seharusnya diakui yaitu:

  • Telah terealisasi atau dapat direalisasikan. Telah direalisasi jika produk, barang, jasa atau aktiva lainnya sudah ditukarkan dengan kas atau klaim atas kas. Dapat direalisasikan apabila aktiva yang diterima dapat segera dikonversikan menjadi kas atau klaim atas kas.
  • Telah dihasilkan atau telah terjadi. Pendapatan dianggap telah dihasilkan apabila sebuah perusahaan sudah melakukan apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan haknya yang dipresentasikan oleh pendapatan.
Kedua kriteria prinsip dasar akuntansi tersebut, umumnya terpenuhi pada saat titik penjualan (point of sales).

Sebagai pengecualian dari pengakuan pendapatan yang dilakukan pada saat titik penjualan, pendapatan juga dapat diakui pada saat:

  1. Proses produksi masih berlangsung.
  2. Akhir produksi.
  3. Pada saat kas diterima.

3. Prinsip penandingan (Matching principle)

Untuk menentukan besarnya jumlah pendapatan dan beban secara tepat dalam periode yang tepat ada dua pilihan yang tersedia yang dapat dijadikan sebagai dasar pencatatan oleh akuntan yaitu:

  • Dasar kas (Cash basis). Pendapatan dan beban akan dilaporkan dalam laporan laba rugi dalam periode dimana uang kas diterima (untuk pendapatan) dan uang kas dibayarkan (untuk beban). Transaksi pendapatan dan beban yang dilaporkan adalah transaksi yang melibatkan arus kas masuk dan keluar. Laba atau rugi bersih yang dihasilkan dari pendapatan dikurangi beban mencerminkan jumlah uang kas yang dihasilkan (net income) atau dikeluarkan (net loss).
  • Dasar akrual (Accrual basis). Dimana pendapatan dan beban akan dilaporkan dalam laporan laba rugi dalam periode dimana pendapatan dan beban tersebut terjadi, tanpa memperhatikan arus kas masuk atau keluar. Pendekatan disini menggunakan istilah biarlah beban mengikuti pendapatan. Dimana pada prinsip penandingan yaitu beban yang dikeluarkan akan ditandingkan dengan pencapaian pendapatan. Dimana pengakuan ini tentang manfaat yang diterima serta biaya yang terkait dengan manfaat itu.
Dasar pencatatan cash basis umumnya masih diterapkan pada perusahaan – perusahan kecil yang modalnya dimiliki satu orang. Sedangkan pada perusahaan – perusahaan menengah keatas khususnya yang modalnya dimiliki oleh banyak investor (pemegang saham). Diharuskan oleh prinsip dasar akuntansi berlaku umum untuk menerapkan accrual basis sebagai dasar pencatatannya.

Prinsip dasar akuntansi yang ketiga Ini, dimaksud bahwa penerapan dasar akrual diharapkan bisa memberikan transparasi dan akuntabilitas laporan keuangan kepada para investor selaku pemilik modal. Dengan dasar akrual memungkinkan pemakai laporan keuangan memperoleh gambaran mengenai kinerja dan kondisi perusahaan lebih memadai dibandingkan dengan dasar kas.


4. Prinsip pengungkapan penuh (Full disclosure principle)

Agar pelaporan keuangan menjadi lebih efektif seluruh informasi yang relevan seharusnya disajikan dengan cara tidak memihak, dapat dipahami dan tepat waktu. Prinsip dasar akuntansi keempat ini dikenal sebagai prinsip pengungkapan penuh. Maka pembuat laporan keuangan harus memperhatikan kecukupan informasi yang dapat mempengaruhi penilaian dan keputusan pemakai.

Namun seringkali karena faktor kendala (yaitu hubungan antara biaya dan manfaat) menyebabkan tidak mungkin untuk melaporkan seluruh informasi yang relevan. Oleh karena itu para pembuat laporan keuangan harus dapat menggunakan berbagai pertimbangan yang ada dalam menentukan informasi yang dilaporkan yang sesuai dengan prinsip pengungkapan penuh.