Thursday, February 11, 2021

Kewajiban lancar, atau kewajiban jangka pendek perusahaan harus dipenuhi dalam waktu singkat

Kewajiban lancar
 

Kewajiban lancar atau kewajiban jangka pendek merupakan kewajiban perusahaan yang harus dipenuhi, baik berupa utang lancar yang menggunakan aset lancar. Maupun kewajiban jangka pendek lain yang belum dipenuhi meskipun aset lancar berupa kas atau setara kas yang sudah diterima. Meskipun demikian terdapat kewajiban tidak lancar atau kewajiban jangka panjang yang jatuh tempo dalam 1 tahun setelah tanggal neraca dapat diklasifikasikan menjadi kewajiban lancar atau kewajiban jangka pendek.


Pengertian kewajiban lancar

Pengertian kewajiban lancar adalah kewajiban yang diharapkan akan dilunasi dalam waktu satu tahun atau satu siklus operasi normal perusahaan, mana yang lebih lama.

Namun perlunya kita memahami kenapa kewajiban tersebut diklasifikasikan sebagai kewajiban lancar.

Mengutip dari Internasional Accounting Standard – IAS 1 yang menyatakan bahwa Perusahaan mengklasifikasikan kewajiban lancar ketika:

  1. Mengharapkan untuk menyelesaikan kewajiban dalam siklus operasi normalnya;
  2. Memegang tanggung jawab terutama untuk tujuan perdagangan;
  3. Kewajiban akan diselesaikan dalam waktu dua belas bulan setelah periode pelaporan; atau
  4. Tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian kewajiban setidaknya dua belas bulan setelah periode pelaporan.
Beberapa kewajiban lancar atau kewajiban jangka pendek, seperti utang usaha dan beberapa akrual untuk karyawan dan biaya operasi lainnya, merupakan bagian dari modal kerja yang digunakan dalam siklus operasi normal perusahaan. Perusahaan mengklasifikasikan item operasi tersebut sebagai kewajiban lancar atau kewajiban jangka pendek meskipun item tersebut akan diselesaikan lebih dari dua belas bulan setelah periode pelaporan. Siklus operasi normal yang sama berlaku untuk klasifikasi aktiva  dan kewajiban perusahaan. Jika siklus operasi normal perusahaan tidak dapat diidentifikasi dengan jelas, maka hal itu dianggap sebagai dua belas bulan.

Siklus operasi adalah periode waktu yang berjalan antara akuisisi barang atau jasa yang terlibat dalam proses pabrikasi dan realisasi kas akhir dari penjualan atau penagihan berikutnya.

Perusahaan dapat mengklasifikasikan kewajiban keuangannya sebagai kewajiban lancar ketika kewajiban tersebut akan diselesaikan dalam waktu dua belas bulan setelah periode pelaporan, bahkan jika:

  1. Jangka waktu asli untuk jangka waktu lebih dari dua belas bulan, dan
  2. Kesepakatan untuk membiayai kembali, atau untuk menjadwal ulang pembayaran, dalam jangka panjang diselesaikan setelah periode pelaporan dan sebelum laporan keuangan diotorisasi untuk diterbitkan.
Dari beberapa pemahaman tersebut maka bisa dilakukan pengelompokan atas kewajiban yang dapat diklasifikasikan dalam kewajiban lancar.


Pengelompokan kewajiban yang diklasifikasikan sebagai kewajiban lancar

Terdapat cakupan dalam kewajiban lancar atau yang menjadi pengelompokan kewajiban lancar secara umum. Berikut yang termasuk dalam klasifikasi kewajiban lancar yaitu:

  1. Pinjaman bank dan pinjaman lainnya (Loans).
  2. Bagian kewajiban tidak lancar atau kewajiban jangka panjang yang jatuh tempo dalam waktu 1 tahun sejak tanggal neraca.
  3. Utang usaha (Account Payable).
  4. Biaya yang masih harus dibayar (Accrued Expenses).
  5. Pendapatan diterima dimuka (Unearned Income) / Pendapatan yang ditangguhkan (Deffered Income).
  6. Uang muka penjualan (Advance Sales).
  7. Utang pembelian aktiva tetap.
  8. Utang pajak.
  9. Utang deviden.
  10. Kewajiban kontijensi.

Kewajiban lancar ke 1: Pinjaman bank dan pinjaman lainnya (Loans)

Jika suatu pinjaman dilunasi sesuai dengan jadwal yang disetujui oleh kreditur, maka pinjaman tersebut diklasifikasikan sesuai dengan jadwal pelunasannya, dengan mengabaikan bahwa hak kreditur sesungguhnya memiliki hak untuk meminta pelunasan sewaktu-waktu. Pinjaman yang dinyatakan dapat dilunasi sewaktu-waktu sesuai permintaan kreditur biasanya diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek. Akan tetapi, jika kreditur telah menyetujui suatu jadual pelunasan atas suatu pinjaman, maka pinjaman tersebut diklasifikasikan sesuai dengan jadual pelunasannya, dengan mengabaikan bahwa kreditur memiliki hak untuk meminta pelunasan sewaktu-waktu.

Kewajiban lancar ke 2: Bagian kewajiban tidak lancar atau kewajiban jangka panjang yang jatuh tempo dalam waktu 1 tahun sejak tanggal neraca

Bagian kewajiban jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun setelah tanggal neraca disajikan dalam neraca sebagai bagian dari kewajiban lancar atau kewajiban jangka pendek. Terkecuali jika perusahaan bermaksud melunasinya dengan cara menimbulkan kewajiban jangka panjang baru. Begitupun, bagian dari kewajiban jangka panjang yang akan dilunasi dalam waktu satu tahun seringkali diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang bila aktiva yang akan digunakan untuk pelunasan kewajiban tersebut pada tanggal neraca telah dikeluarkan dari aktiva lancar. Apabila suatu perusahaan mengeluarkan suatu kewajiban dari klasifikasi jangka pendek, maka jumlah dan keterangan lain yang relevan harus diungkapkan secukupnya.

Kewajiban lancar ke 3: Utang usaha (Account Payable)

Utang usaha ini terjadi pada saat barang atau jasa yang diterima dengan pembelian secara kredit. Utang usaha ini dilunasi oleh perusahaan dengan jangka waktu yang singkat atau pendek sesuai kesepakatan atas term of payment (TOP). Ulasan lebih dalam pada tulisan Jurnal utang usaha.

Kewajiban lancar ke 4: Biaya yang masih harus dibayar (Accrued Expenses)

Beban yang sudah terjadi namun belum dibayar, dicatat dalam perkiraan dengan mendebet beban dan mengkredit utang beban yang masih harus dibayar. Pada akhir periode terdapat ayat jurnal penyesuaian berupa jurnal biaya yang masih harus dibayar. Dimana dilakukan pengakuan atas beban dan kewajiban yang masih harus diselesaikan.

Kewajiban lancar ke 5: Pendapatan diterima dimuka (Unearned Income) / Pendapatan yang ditangguhkan (Deffered Income)

Merupakan pembayaran yang diterima dimuka dari penyediaan barang atau jasa. Karena suatu kewajiban muncul pada perusahaan untuk menyediakan barang atau jasa atas pembayaran dimuka yang telah diterima. Penerimaan yang diterima dimuka merupakan suatu kewajiban. Kewajiban untuk menyerahkan barang – barang atau jasa – jasa dimasa yang akan datang. Merupakan penerimaan kas dari pelanggan atau pembeli yang belum memenuhi kriteria untuk diakui sebagai pendapatan.

Kewajiban lancar ke 6: Uang muka penjualan (Advance Sales)

Merupakan sebagian pembayaran yang diterima dimuka dari penyediaan barang atau jasa. Yang sedikit membedakan dengan pendapatan diterima dimuka adalah jumlah yang dibayarkan pelanggan atau diterima oleh perusahaan. Pemahamannya perusahaan menerima sebagian uang dari total nilai penjualan sebagai uang muka. Sisanya akan dibayarkan secara tunai atau sebagai piutang pada saat barang atau jasa sudah diterima pembeli.

Kewajiban lancar ke 7: Utang pembelian aktiva tetap

Utang pembelian aktiva tetap ini merupakan pembelian aktiva tetap secara kredit kepada supplier. Umumnya pembelian aktiva secara kredit jangka waktu pelunasannya tidak sesingkat atau sependek jangka waktu utang usaha. Namun masih dalam rentang waktu 12 bulan atau siklus operasi normal perusahaan. Apabila menggunakan pendanaan dari pinjaman bank secara jangka panjang maka perlakuannya sama dengan kewajiban pada poin 2.

Kewajiban lancar ke 8: Utang pajak

Merupakan kewajiban pajak yang harus dibayar oleh perusahaan. Hal ini termasuk sanksi administrasi atas keterlambatan pembayaran berupa bunga, denda, atau kenaikan yang dicantumkan dalam surat ketetapan pajak atau sejenisnya berdasarkan ketentuan peraturan perpajakan. Juga utang pajak yang dipungut dari pembeli atau pelanggan.

Kewajiban lancar ke 9: Utang deviden

Merupakan sejumlah dividen yang harus dibayarkan, seperti yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Setelah diputuskan oleh dewan direksi, dividen itu menjadi suatu kewajiban dan dicantumkan sebagai utang dalam laporan tahunan dan triwulanan.

Kewajiban lancar ke 10: Kewajiban kontijen

Kewajiban kontijensi merupakan  kewajiban potensial yang timbul dari peristiwa masa lalu dan keberadaannya menjadi pasti dengan terjadi atau tidak terjadinya satu peristiwa atau lebih pada masa datang yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali perusahaan. Atau kewajiban kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu, tetapi tidak diakui karena tidak terdapat kemungkinan besar perusahaan mengeluarkan sumber daya yang mengandung manfaat ekonomis untuk menyelesaikan kewajibannya. Atau jumlah kewajiban tersebut tidak dapat diukur secara andal.


Keterbatasan pengklasifikasian lancar dan tidak lancar pada kewajiban lancar

Pada umumnya klasifikasi lancar atau tidak lancar diyakini dapat memberikan identifikasi tentang bagian modal yang relatif likuid. Dimana bagian modal yang relatif likuid ini bisa digunakan untuk memenuhi kewajiban perusahaan dalam siklus operasi yang normal.

Namun banyak perusahaan membiayai operasionalnya dengan pinjaman bank yang dinyatakan dapat dilunasi sewaktu-waktu sesauai permintaan bank. Oleh karena itu pinjaman bank tersebut diklasifikasikan sebagai kewajiban lancar atau kewajiban jangka pendek. Meski pada kenyataannya, persyaratan pelunasan sesuai permintaan bank tersebut merupakan proteksi bank. Dan kenyataan yang lain bahwa kesepakatan antara peminjam dan bank merupakan pinjaman yang akan berlangsung untuk jangka waktu yang lama.

Seperti halnya aset lancar, demikian pula pada kewajiban lancar, dimana banyak pihak berpendapat bahwa selisih lebih aktiva lancar atas kewajiban lancar merupakan indikasi kondisi keuangan perusahaan dalam kondisi yang baik. Sedangkan selisih kurang antara aktiva lancar atas kewajiban lancar dipandang sebagai indikasi adanya masalah keuangan.

Kesimpulan tidak tepat jika tidak mempertimbangkan karakteristik usaha dan mempertimbangkan setiap komponen aktiva lancar dan kewajiban lancar.

Selain itu pengklasifikasian lancar dan tidak lancar kurang tepat untuk laporan keuangan perusahaan yang mempunyai siklus operasi normalnya tidak dapat ditentukan atau sangat panjang.