Kamis, 20 Januari 2022

Analisis Rasio Profitabilitas, Menganalisis kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba

cover analisis Rasio Profitabilitas 

Analisis rasio profitabilitas digunakan sebagai analisis untuk menilai kinerja manajemen dan perusahaan dalam mencapai target keuntungan. Sebagai usahanya dalam memberikan imbal balik bagi investasi yang ditanamkan oleh pemilik atau pemegang saham. Sebagaimana diketahui bahwa sebuah perusahaan didirikan untuk mendapatkan keuntungan baik jangka pendek maupun jangka panjang.


Pengertian analisis rasio profitabilitas

Analisis Rasio profitabilitas merupakan analisis rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktivitas normal bisnisnya. Tujuan operasional perusahaan sebagian besar adalah untuk memaksimalkan profit baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dimana manajemen dituntut untuk meningkatkan imbal hasil (return) bagi perusahaan atau pemilik, hal ini baru akan terjadi apabila perusahaan memperoleh laba dalam aktivitas bisnisnya.

Analisis rasio profitabilitas juga dikenal sebagai analisis rasio rentabilitas. Selain bertujuan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba juga untuk mengukur efektifitas manajemen dalam menjalankan operasional perusahaan.

Pengukuran rasio profitabilitas dilakukan dengan membandingkan antara berbagai komponen yang ada di dalam laporan laba rugi dan atau neraca. Pengukuran dapat dilakukan untuk beberapa periode. Dengan tujuan untuk memonitor dan mengevaluasi tingkat perkembangan profitabilitas perusahaan dari periode ke periode. Selain itu perbandingan dapat dilakukan terhadap target yang telah ditetapkan atau juga dibandingkan dengan standar rasio rata – rata industri.

Sama halnya dengan analisis rasio keuangan lainnya seperti analisis rasio likuiditas, analisis rasio solvabilitas maupun analisis rasio aktivitas, analisis rasio ini dapat diperbandingkan dari periode ke periode.


Tujuan dan manfaat analisis rasio profitabilitas

Dalam prakteknya ada banyak manfaat yang dapat diperoleh dari analisis rasio profitabilitas baik bagi manajemen, pemilik maupun pemangku kepentingan lainnya terkait perusahaan.

Berikut tujuan dan manfaat analisis rasio profitabilitas secara keseluruhan:

  • Mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu.
  • Menilai posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun sekarang.
  • Menilai perkembangan laba dari waktu ke waktu.
  • Mengukur seberapa besar jumlah laba bersih yang akan dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total aset.
  • Mengukur seberapa besar jumlah laba bersih yang akan dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total ekuitas.
  • Mengukur margin laba kotor atas penjualan bersih.
  • Mengukur margin laba operasional atas penjualan bersih.
  • Mengukur margin laba bersih atas penjualan bersih.


Jenis – jenis analisis rasio profitabilitas

Penggunaan analisis rasio profitabilitas disesuaikan dengan tujuan dan kebutuhan perusahaan. Perusahaan dapat menggunakan keseluruhan atau sebagian saja dari jenis rasio profitabilitas yang ada.

Berikut ini adalah jenis – jenis analisis rasio profitabilitas yang umum digunakan dalam praktek mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba:

  1. Hasil pengembalian atas aset (Return on assets ratio).
  2. Hasil pengembalian atas ekuitas (Return on equity ratio).
  3. Marjin laba kotor (Gross margin profit).
  4. Marjin laba operasional (Operating profit margin).
  5. Marjin laba bersih (Net profit margin).

1. Analisis rasio profitabilitas untuk hasil pengembalian atas aset (Return on assets ratio)

Hasil pengembalian aset merupakan rasio yang menunjukan seberapa besar kontribusi aset dalam menciptakan laba bersih. Dengan kata lain rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah laba bersih yang akan dihasilkan dari setiap rupiah yang tertanam dalam total aset. Analisis rasio profitabilitas ini dihitung dengan membagi laba bersih terhadap total aset.

Semakin tinggi hasil pengembalian aset berarti semakin tinggi pula jumlah laba bersih yang dihasilkan dari setiap rupiah dana yang ditanam dalam total aset. Begitu juga dengan sebaliknya.

Rumus analisis rasio profitabilitas untuk hasil pengembalian atas aset:

analisis rasio profitabilitas
Rumus analisis rasio profitabilitas untuk hasil pengembalian atas aset

Ilustrasi: Data PT. Profita Tahun 2021 berupa laba bersih Rp.1.600.000, total aset Rp.19.000.000.

Hasil pengembalian aset = 1.600.000 / 19.000.000 = 8,4%.

Artinya setiap Rp.1 total aset turut berkontribusi menciptakan Rp.0,084 laba bersih atau kata lain laba bersih memberikan pengembalian 8,4 % atas total aset.

Sebagai pembanding bisa dilakukan dengan periode sebelumnya atau rata – rata industri untuk hasil pengembalian atas aset adalah 20%. Maka bisa disimpulkan bahwa kontribusi total aset terhadap laba bersih tidak bagus dibandingkan dengan perusahaan sejenis lainnya. Hal ini bisa disebabkan karena: Aktivitas penjualan yang belum optimal, banyak aset yang tidak produktif, belum dimanfaatkan secara maksimal untuk menciptakan pendapatan, atau terlalu besarnya beban operasional.

2. Analisis rasio profitabilitas untuk hasil pengembalian atas ekuitas (Return on Equity Ratio)

Hasil pengembalian atas ekuitas merupakan analisis rasio profitabilitas yang menunjukan seberapa besar kontribusi ekuitas dalam menciptakan laba bersih. Dengan kata lain analisis rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah laba bersih yang akan dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam ekuitas. Rasio dihitung dengan membagi laba bersih terhadap ekuitas.

Semakin tinggi hasil pengembalian atas ekuitas berarti semakin tinggi pula jumlah laba bersih yang dihasilkan dari setiap rupiah yang tertanam dalam total ekuitas. Begitu juga sebaliknya.

Rumus analisis rasio profitabilitas untuk hasil pengembalian atas ekuitas:

analisis rasio profitabilitas
Rumus analisis rasio profitabilitas untuk hasil pengembalian atas ekuitas

Ilustrasi: Data PT. Profita Tahun 2021 berupa laba bersih Rp.1.600.000, total ekuitas Rp.8.000.000.

Hasil pengembalian ekuitas = 1.600.000 / 8.000.000 = 20%.

Artinya setiap Rp.1 total ekuitas turut berkontribusi menciptakan Rp.0,20 laba bersih atau kata lain laba bersih memberikan pengembalian ekuitas sebesar 20 %.

Sebagai pembanding bisa dilakukan dengan periode sebelumnya atau rata – rata industri untuk hasil pengembalian atas ekuitas adalah 30%. Maka bisa disimpulkan bahwa kontribusi total aset terhadap laba bersih tidak bagus dibandingkan dengan perusahaan sejenis lainnya. Hal ini bisa disebabkan karena: Aktivitas penjualan yang belum optimal, belum maksimalnya penggunaan modal untuk menciptakan pendapatan, atau terlalu besarnya beban operasional.

3. Analisis rasio profitabilitas untuk Marjin laba kotor (Gross profit margin)

Marjin laba kotor merupakan analisis rasio profitabilitas yang digunakan untuk menganalisis dan mengukur besarnya persentase laba kotor atas penjualan bersih. Rasio ini dihitung dengan membagi laba kotor terhadap penjualan bersih. Laba kotor sendiri dihitung sebagai hasil pengurangan antara penjualan bersih dengan harga pokok penjualan. Yang dimaksud penjualan bersih disini adalah penjualan (tunai dan kredit) dikurangi retur dan potongan penjualan.

Semakin tinggi marjin laba kotor berarti semakin tinggi pula laba kotor yang dihasilkan dari penjualan bersih. Hasil ini disebabkan karena tingginya harga jual dan rendahnya harga pokok penjualan begitu juga sebaliknya.

Rumus analisis rasio profitabilitas untuk menghitung marjin laba kotor:

analisis rasio profitabilitas
Rumus analisis rasio profitabilitas untuk menghitung marjin laba kotor

Ilustrasi: Data PT. Profita Tahun 2021 berupa penjualan Rp.19.800.000, harga pokok penjualan Rp.14.700.000, dan laba bersih Rp.5.100.000.

Marjin laba kotor = 5.100.000 / 19.800.000 = 25,8%.

Artinya besarnya laba kotor adalah 25,8% dari total penjualan bersih. Dengan kata lain besarnya HPP adalah 74,2% dari total penjualan bersih.

Sebagai pembanding bisa dilakukan dengan periode sebelumnya atau rata – rata industri untuk marjin laba kotor adalah 38%. Maka bisa disimpulkan bahwa kontribusi penjualan bersih terhadap laba kotor dengan perusahaan sejenis kurang bagus. Dalam hal ini perusahaan perlu meninjau harga jual atau mengendalikan harga pokok penjualan.

4. Analisis rasio profitabilitas untuk Marjin laba operasional (Operating profit margin)

Marjin laba operasional merupakan analisis rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur besarnya persentase laba operasional atas penjualan bersih. Rasio ini dihitung dengan membagi laba operasional terhadap penjualan bersih.

Laba operasional sendiri dihitung sebagai hasil pengurangan antara laba kotor dengan beban operasional. Beban operasional disini terdiri atas beban penjualan dan beban administrasi dan umum.

Semakin tinggi marjin laba operasional berarti semakin tinggi pula laba operasional yang dihasilkan dari penjualan bersih. Begitupun sebaliknya.

Rumus analisis rasio profitabilitas untuk menghitung marjin laba operasional:

analisis rasio profitabilitas
Rumus analisis rasio profitabilitas untuk menghitung marjin laba operasional

Ilustrasi: Data PT. Profita Tahun 2021 berupa penjualan Rp.19.800.000, harga pokok penjualan Rp.14.700.000, dan laba bersih Rp.5.100.000. Beban operasional Rp.2.390.000 dan laba operasional Rp.2.710.000.

Marjin laba operasional = 2.710.000 / 19.800.000 = 13,7%.

Artinya besarnya laba operasional adalah 13,7% dari total penjualan bersih. Dengan kata lain Rp.1 setiap penjualan bersih turut berkontribusi menciptakan Rp.0,137 laba operasional.

Sebagai pembanding bisa dilakukan dengan periode sebelumnya atau rata – rata industry untuk marjin laba operasional adalah 23%. Maka bisa disimpulkan bahwa kontribusi penjualan bersih terhadap laba operasional dengan perusahaan sejenis kurang bagus. Dalam hal ini perusahaan perlu mengendalikan biaya operasional.

5. Analisis rasio profitabilitas untuk marjin laba bersih (Net profit margin)

Marjin laba bersih merupakan analisis rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur besarnya persentase laba bersih atas penjualan bersih. Rasio ini dihitung dengan membagi laba bersih terhadap penjualan bersih. Laba bersih sendiri dihitung sebagai hasil pengurangan laba sebelum pajak penghasilan dengan beban pajak. Yang dimaksud dengan laba sebelum pajak adalah pendapatan dan keuntungan lain – lain dikurangi beban dan kerugian lain – lain.

Semakin tinggi marjin laba bersih berarti semakin tinggi pula laba bersih yang dihasilkan dari penjualan bersih. Begitu juga sebaliknya.

Rumus analisis rasio profitabilitas untuk menghitung marjin laba bersih:

analisis rasio profitabilitas
Rumus analisis rasio profitabilitas untuk menghitung marjin laba bersih

Ilustrasi: Data PT. Profita Tahun 2021 berupa penjualan Rp.19.800.000, harga pokok penjualan Rp.14.700.000, dan laba bersih Rp.5.100.000. Beban operasional Rp.2.390.000 dan laba operasional Rp.2.710.000, pendapatan keuntungan lain – lain Rp.250.000, beban kerugian lain – lain Rp.960.000, laba sebelum pajak penghasilan Rp.2.000.000, pajak penghasilan Rp.400.000 dan laba bersih Rp.1.600.000.

Marjin laba bersih = 1.600.000 / 19.800.000 = 8,1%.

Artinya besarnya laba bersih adalah 8,1% dari total penjualan bersih. Dengan kata lain setiap Rp.1 penjualan bersih turut berkontribusi menciptakan Rp.0,081 laba bersih.

Sebagai pembanding bisa dilakukan dengan periode sebelumnya atau rata – rata industri untuk marjin laba bersih adalah 10%. Maka bisa disimpulkan bahwa kontribusi penjualan bersih terhadap laba bersih dengan perusahaan sejenis kurang bagus. Dalam hal ini perusahaan perlu mengendalikan biaya operasional dan beban lain – lain yang terlalu besar.