Senin, 14 Februari 2022

Aset tidak berwujud, aset tidak berfisik yang memiliki manfaat ekonomis terbatas dan tidak terbatas

cover aset tidak berwujud 

Aset tidak berwujud merupakan salah satu dari aset perusahaan yang tidak mempunyai bentuk fisik dan diharapkan memberi manfaat ekonomis kedepannya. Seperti halnya aset tetap yang mempunyai masa manfaat, begitu pula aset tidak berwujud. Namun yang membedakan, dimana aset tidak berwujud bisa mempunyai masa manfaat yang tidak terbatas.


Definisi Aset tidak berwujud

Aset tidak berwujud adalah aset non moneter yang dapat diindetifikasi yang tidak memiliki substansi fisik. Nilai aset tidak berwujud berasal dari hak atau keistimewaan yang diperoleh entitas dari memiliki aset tersebut.

Contoh aset tidak berwujud seperti berikut ini: Paten, Hak Cipta, Merek Dagang, Merk Produk, perangkat lunak, waralaba, goodwill.

Dalam kondisi suatu aset terdapat elemen berwujud dan tak berwujud maka harus ditentukan apakah aset diperlakukan menurut PSAK 16 aset tetap atau PSAK 19 Aset tak berwujud. Yang perlu diperhatikan adalah elemen mana yang lebih signifikan.

Ilustrasi penentuan aset tidak berwujud:

  • Perangkat lunak (software) pada mesin yang dikendalikan komputer dan mesin tidak dapat beroperasi tanpa perangkat lunak. Berarti perangkat lunak merupakan bagian integral (tidak terpisahkan) dari perangkat kerasnya sehingga diperlukan sebagai bagian dari aset tetap.
  • Sistem operasi suatu komputer. komputer tidak dapat beroperasi tanpa adanya sistem operasi, maka sistem operasi diperlakukan sebagai bagian dari komputer tersebut sebagai bagian dari aset tetap.
  • Perangkat lunak persediaan (Inventory software) atau akuntansi (accounting software) yang dibeli perusahaan bukan merupakan bagian internal dari perangkat keras sehingga dapat diklasifikasikan sebagai aset tidak berwujud.

Pengakuan aset tidak berwujud

Tidak berbeda jauh dengan pengakuan aset tetap seperti yang sudah dibahas dalam biaya perolehan aset tetap maupun revaluasi aset tetap. Begitu juga halnya aset tidak berwujud yang juga mempuyai kriteria pengakuannya.

Kriteria umum untuk mengakui adalah:

  1. Aset tidak berwujud dapat diidentifikasi secara terpisah dari aspek entitas yang lain.
  2. Penggunaan dikendalikan oleh entitas sebagai akibat dari tindakan atau kejadian di masa lalu.
  3. Terdapat manfaat ekonomi di masa mendatang yang akan mengalir ke entitas.
  4. Biaya perolehan dapat diukur secara andal.


1. Aset tidak berwujud dapat diidentifikasi secara terpisah dari aspek entitas yang lain

Secara jelas PSAK 19 menyatakan bahwa aset tidak berwujud memenuhi kriteria dapat diidentifikasi apabila:

  1. Dapat dipisahkan, yaitu dapat dipisahkan dari entitas dan dijual, ditransfer, dijual hak pakainya, disewakan atau dipertukarkan, baik secara individu maupun bersama – sama dengan kontrak terkaitnya.
  2. Timbul dari hak kontraktual atau hak hukum lainnya, tidak tergantung dari apakah hak tersebut dapat ditransfer atau dipisahkan dari entitas atau dari hak dan kewajiban lainnya.

Biaya dari pengembangan secara internal tidak dapat dikapitalisasi, dan ini berarti aset tersebut tetap off balance sheet sampai dan kecuali entitas tersebut diakuisisi oleh entitas lain.

2. Penggunaan aset tidak berwujud dikendalikan oleh entitas sebagai akibat dari tindakan atau kejadian di masa lalu

Entitas harus mempunyai kendali atas penggunaan aset tidak berwujud yang ditampilkan di laporan posisi keuangan / neraca. Pengendalian berarti adanya kekuasaan untuk memperoleh manfaat ekonomis di masa mendatang dari aset tersebut dan membatasi akses pihak lain atas manfaat tersebut. Pada umumnya entitas mendaftarkan paten, hak cipta dan lain – lain untuk memiliki kendali atas aset tersebut.

3. Terdapat manfaat ekonomi dari aset tidak berwujud di masa mendatang yang akan mengalir ke entitas

Aset tidak berwujud diakui hanya jika besar kemungkinan manfaat ekonomi di masa mendatang terkait dengan aset tersebut akan mengalir ke entitas. Serta biaya perolehannya dapat diukur secara andal.

Manfaat ekonomis di masa mendatang dapat berupa pendapatan dari penjualan produk atau jasa, penghematan biaya, atau manfaat lainnya yang timbul dari penggunaan aset tersebut. Contoh dari manfaat yang timbul dari penggunaan aset tidak berwujud adalah penggunaan formulasi rahasia (dan dilindungi secara hukum).Hal ini menyebabkan berkurangnya persaingan dipasar dengan para pesaing. Sehingga meningkatkan prospek untuk meningkatkan penjualan di masa mendatang dan mengurangi pengeluaran.

4. Biaya perolehan aset tidak berwujud dapat diukur secara andal

Pengukuran biaya perolehan aset tak berwujud bergantung pada kondisi saat aset tersebut diakuisisi. Untuk aset tak berwujud yang diperoleh secara terpisah maka pengukuran biaya perolehannya sama dengan aset tetap.

Sama halnya dengan biaya perolehan aset tetap, Biaya perolehan terdiri dari harga pembelian, termasuk pajak dan bea impor, dikurangi diskon, ditambah semua biaya yang secara langsung dapat didistribusikan yang terjadi dalam menyiapkan aset tersebut hingga siap untuk digunakan sesuai tujuan penggunanya.

Menurut PSAK 19 biaya perolehan aset tidak berwujud yang diakuisisi sebagai bagian dari penggabungan usaha adalah nilai wajarnya pada tanggal akuisisi.Jika aset tak berwujud dapat diperdagangkan secara bebas dipasar aktif maka harga pasar adalah dasar pengukuran terbaik untuk biaya perolehan aset tak berwujud tersebut.

Jika aset tidak berwujud tidak mempunyai pasar aktif maka biaya perolehan ditentukan berdasarkan jumlah yang akan dibayarkan entitas dalam transaksi normal pada tanggal akuisisi.

Jika biaya perolehan aset tidak berwujud yang diakuisisi sebagai bagian dari penggabungan usaha tidak dapat diukur secara andal maka aset tersebut tidak diakui secara terpisah tetapi dimasukan sebagai goodwill.


Pengakuan aset tidak berwujud biaya perangkat lunak komputer

Pada umumnya sering timbul pertanyaan terkait perlakuan akuntansi untuk biaya perangkat lunak komputer. Terdapat beberapa alternatif perlakuan akuntansi:

  1. Untuk perusahaan pengembang perangkat lunak .Biaya yang timbul dalam pengembangan perangkat lunak adalah biaya penelitian dan pengembangan. Sehingga semua biaya dalam fase penelitian harus dibebankan, sedangkan biaya dalam fase pengembangan dapat dikapitalisasi apabila memenuhi kriteria pengakuan sebagai aset.
  2. Untuk perangkat lunak yang dikembangkan untuk digunakan secara internal. Biaya yang terjadi harus dibebankan walaupun perangkat lunak tersebut memberikan manfaat bagi entitas tetapi sulit untuk menunjukan bagaimana program tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi masa depan bagi entitas.
  3. Untuk perangkat lunak yang dibeli. (a) Perangkat lunak yang dimiliki untuk dijual hak pakainya atau disewakan ke pihak lain maka harus diakui sebagai aset tidak berwujud. (b) Perangkat lunak yang dibeli untuk dijual kembali diakui sebagai persediaan. (c) Untuk perangkat lunak yang dibeli untuk dipergunakan sendiri dan merupakan bagian integral dari perangkat keras, maka akan diperlakukan sebagai bagian dari biaya perolehan perangkat keras dan dikapitalisasi sebagai aset tetap. Biaya perolehan perangkat lunak lain harus diakui sebagai aset tak berwujud jika bukan bagian dari integral dari perangkat keras.

Pengakuan aset tidak berwujud Biaya Situs web

Dalam ISAK 14 aset tidak berwujud – biaya situs web mengatur mengenai perlakuan akuntansi terkait biaya situs web. Menurut ISAK (Interprestasi standard akuntansi) 14, situs web yang timbul dari pengembangan diakui sebagai aset tidak berwujud jika dan hanya jika memenuhi persyaratan umum dalam PSAK 19 terkait pengakuan dan pengukuran awal.Yaitu kemungkinan besar entitas akan memperoleh manfaat ekonomi masa depan dari aset tersebut, dan biaya perolehan aset tersebut dapat diukur secara andal.

Entitas dapat memenuhi persyaratan dalam PSAK 19 terkait aset tak berwujud yang timbul dari pengembangan. Entitas harus dapat menunjukan bagaimana situs web entitas akan dapat menghasilkan manfaat ekonomi masa depan misalnya ketika situs web dapat menghasilkan pendapatan termasuk pendapatan langsung dari pesanan.

Apabila entitas tidak dapat menunjukan bahwa situs web yang dikembangkan tersebut akan menghasilkan kemungkinan manfaat ekonomi masa depan, maka semua pengeluaran pada pengembangan situs web harus langsung diakui sebagai beban pada saat terjadinya.Misalnya situs web tersebut digunakan semata – mata atau terutama hanya untuk mempromosikan dan iklan produk dan jasa entitas.


Amortisasi aset tidak berwujud

Biaya perolehan aset tidak berwujud harus memasukkan semua biaya yang diperlukan untuk membawa aset tersebut siap digunakan. Ditinjau dari masa manfaatnya aset tak berwujud dapat dibagi 2 yaitu:

  1. Masa manfaat terbatas. Aset tidak berwujud dengan masa manfaat terbatas harus diamortisasi.
  2. Masa manfaat tak terbatas. Aset tidak berwujud dengan masa manfaat tak terbatas tidak diamortisasi (tapi dilakukan uji penurunan nilai secara berkala).
Menentukan masa manfaat aset tidak berwujud perlu diperhatikan beberapa faktor berikut:

  • Harapan manfaat aset bagi entitas dan apakah aset dapat dikelola secara efisien oleh tim manajemen.
  • Tipe siklus hidup produk bagi aset dan informasi umum mengenai estimasi masa manfaat dari aset serupa yang digunakan untuk keperluan serupa.
  • Jenis teknis, teknologi, komersial atau jenis lain dari keusangan.
  • Stabilitas industri dimana aset beroperasi dan perubahan permintaan pasar atas produk atau jasa yang dihasilkan aset.
  • Perkiraan atas tindakan kompetitor.
  • Tindakan pengeluaran perawatan yang dibutuhkan untuk menghasilkan manfaat ekonomis masa depan dari aset dan kemampuan entitas serta niat entitas untuk mencapai tingkat tersebut.
  • Periode pengandalian aset dan hukum atau batasan serupa dalam pemanfaatan aset seperti masa berlaku sewa yang berhubungan.
  • Masa manfaat aset bergantung dengan masa manfaat aset lainnya.

A. Aset tidak berwujud dengan masa manfaat terbatas

Aset tidak berwujud dengan masa manfaat terbatas harus diamortisasi. Konsep amortisasi aset tak berwujud sama dengan konsep dan metode penyusutan aset tetap.

Amortisasi adalah alokasi harga perolehan aset tak berwujud secara sistematis selama masa manfaatnya.

Masa manfaat aset tak berwujud yang timbul dari kontrak atau hak legal lainnya tidak dapat melebihi masa kontrak atau hak legal lainnya tersebut. Tetapi masa manfaatnya dapat lebih pendek apabila entitas akan menggunakan aset tersebut dalam periode lebih pendek.

Oleh karena itu dalam mengestimasi masa manfaat entitas perlu mempertimbangkan 2 aspek:

  1. Faktor ekonomi. Menentukan periode masa manfaat ekonomis masa depan yang dapat diperoleh entitas.
  2. Faktor hukum. Faktor hukum mungkin membatasi periode entitas dapat memiliki akses pengendalian terhadap manfaat tersebut.
Masa manfaat aset adalah periode yang lebih pendek dari periode yang ditentukan dari penerapan kedua faktor tersebut. Amortisasi aset tak berwujud harus dimulai ketika aset tersedia siap untuk digunakan.

Ilustrasi: Perusahaan farmasi memiliki hak paten memproduksi obat influenza.Hak paten dibeli dengan harga 200 juta dan masa manfaat ekonomis diperkirakan 10 tahun tanpa nilai sisa. Besarnya amortisasi tiap tahun menggunakan metode garis lurus adalah sebesar 200 juta/10 = 20 juta.

Jurnal aset tidak berwujud  amortisasi tiap tahun akan terlihat sebagai berikut:

aset tidak berwujud
Jurnal aset tidak berwujud

Entitas juga harus mereview masa manfaat dari aset tak berwujud tiap akhir periode. Apabila entitas mengubah estimasi masa manfaat maka sama seperti kasus perubahan estimasi masa manfaat aset tetap, dimana nilai tercatat dari aset tak berwujud akan diamortisasi selama sisa masa manfaat dari estimasi masa manfaat yang baru.

B. Aset tidak berwujud dengan masa manfaat tak terbatas

Perusahaan tidak mengamortisasi aset tidak berwujud dengan masa manfaat tak terbatas.Namun perusahaan perlu melakukan uji penurunan nilai secara berkala.Untuk mengetahui apakah nilai wajar dari aset tersebut lebih rendah dari nilai tercatatnya.

Apabila terdapat bukti yang menunjukan masa manfaatnya menjadi terbatas, maka perubahan masa manfaat menjadi terbatas tersebut diterapkan sesuai PSAK 25.


Nilai sisa aset tidak berwujud

Untuk menghitung besaran amortisasi selain masa manfaat juga perlu diketahui mengenai estimasi nilai sisa. Untuk aset tetap umumnya terdapat nilai sisa karena dapat dijual.

Tetapi untuk aset tak berwujud umumnya tidak mempunyai nilai sisa, sehingga PSAK 19 mengharuskan diasumsikan tidak ada nilai sisa untuk aset tidak berwujud kecuali:

  • Terdapat komitmen dari pihak ketiga untuk membeli aset tersebut pada akhir masa manfaatnya atau;
  • Terdapat pasar aktif untuk aset tidak berwujud tersebut. Dan nilai sisa dapat diukur secara andal dengan mengacu ke pasar aktif dan kemungkinan besar pasar masih tetap pada akhir masa manfaat aset.


Penghentian dan pelepasan aset tidak berwujud

Terdapat 2 kondisi suatu aset tidak berwujud dihentikan pengakuannya yaitu:

  1. Dalam proses pelepasan atau;
  2. Ketika tidak terdapat lagi manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan dari penggunaan atau pelepasannya.
Apabila terdapat penghentian pengakuan aset maka perlu dihitung apakah terdapat keuntungan atau kerugian dari penghentian pengakuan tersebut.

Keuntungan atau kerugian tersebut timbul dari perbedaan antara nilai bersih pelepasan (jika ada) dan nilai tercatat aset. Keuntungan dan kerugian yang timbul tersebut dihentikan pengakuannya.Kecuali dalam kasus penjualan dan penyewaanya kembali sebagaimana diatur dalam PSAK 30 tentang sewa, maka keuntungan tersebut tidak boleh diakui sebagai pendapatan.