Saturday, March 27, 2021

Metode penyusutan aset tetap, pengalokasian biaya perolehan asset tetap

metode penyusutan aset tetap

Metode penyusutan aset tetap, dulunya dikenal dengan metode penyusutan aktiva tetap, digunakan perusahaan untuk mengalokasikan biaya perolehan aset tetap. Alokasi biaya perolehan aset tetap ini dapat mencerminkan pemanfaatan aset tetap oleh perusahaan. Terdapat beberapa metode penyusutan aset tetap yang dapat diterapkan oleh perusahaan.

Memahami makna penyusutan dalam metode penyusutan aset tetap

Penyusutan adalah suatu proses pengalokasian atas biaya perolehan aset tetap atau aktiva tetap sehingga jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aset tetap dapat dialokasikan secara sistematis selama masa manfaatnya.

Semua yang dikategorikan sebagai aset tetap harus disusutkan selama manfaatnya, kecuali tanah. Karena nilai tanah tidak pernah menurun, berbeda dengan aset lain yang dapat menurun. Dengan syarat bahwa penguasaan fisik atas tanah adalah hak milik perusahaan.

Namum apabila bukan hak milik, contohnya hibah pemerintah maka harus disusutkan. Hal ini sudah saya jelaskan dalam jurnal aset tetap hibah pemerintah. Perlakuannya harus disesuaikan dengan ISAK 25 Hak atas tanah.

Apa yang menjadi kategori, sifat dan karakteristik aset tetap saya ulas secara detail dalam tulisan biaya perolehan aset tetap.

Sebelum menentukan metode penyusutan aset tetap perlunya kita mengetahui perlakuan aset tetap yang akan disusutkan. Dalam PSAK 16; 43 disebutkan Setiap bagian dari aset tetap yang memiliki biaya perolehan yang signifikan terhadap total biaya perolehan seluruh aset tetap disusutkan secara terpisah.

Bagian yang signifikan tersebut bisa jadi memiliki umur manfaat dan metode penysutan aset tetap yang sama dengan bagian yang signifikan lain dari aset tersebut. Namun bisa jadi umur manfaat dan metode penyusutan aset tetap berbeda dengan bagian lain dari aset tersebut.

Disini disebut sebagai konsep komponenisasi (Componentization), sebuah konsep bahwa bagian atau komponen yang terpisah ditaksir tersendiri umur manfaat dan metode penyusutan aset tetap nya.

Contohnya adalah penyusutan yang terpisah antara badan pesawat dengan mesin pesawat, atau tangan dan kaki crane yang disusutkan berbeda dengan badan mesin crane.

Sebelum kita menentukan metode penyusutan aset tetap, kita pahami penyusutan yang didalamnya perlu diketahui adalah:

  • Jumlah yang dapat disusutkan.
  • Umur manfaat.


Jumlah yang dapat disusutkan dalam metode penyusutan aset tetap

Dalam menerapkan metode penyusutan aset tetap maka perlu kita ketahui jumlah yang dapat disusutkan. Jumlah yang dapat disusutkan dari sebuah aset tetap adalah biaya perolehan asset tetap atau jumlah lain yang menjadi pengganti biaya perolehan (misal nilai revaluasi) dikurangi dengan nilai sisanya (nilai residu).

Nilai sisa merupakan jumlah yang diperkirakan akan diperoleh perusahaan saat pelepasan aset tetap, setelah dikurangi perkiraan biaya pelepasan aset tetap saat mencapai akhir umur manfaat.

Sehingga jumlah yang disusutkan dalam sebuah aset tetap merupakan nilai tercatat dikurangi nilai residu, baik pada model biaya maupun model revaluasi. Penyusutan aset tetap akan terus dilakukan selama nilai residu aset tidak melebihi nilai tercatatnya.

Jika nilai residu aset tetap lebih besar atau sama dengan nilai tercatatnya, maka penyusutan harus dihentikan. Dan beban penyusutan sama dengan nol sampai nilai residu aset tetap menurun hingga lebih kecil dari nilai tercatatnya.


Umur manfaat aset tetap atau masa manfaat dalam metode penyusutan aset tetap

Umur manfaat adalah periode tertentu dimana aset tetap diharapkan dapat digunakan sehingga manfaat ekonomis dari aset tersebut dapat diperoleh oleh perusahaan.

Manfaat ekonomis masa depan dari aset tetap dimanfaatkan oleh perusahaan melalui penggunaan aset tersebut. Namun beberapa faktor lain seperti keusangan teknis dan komersil serta keausan selama aset tidak terpakai, mengakibatkan penurunan manfaat ekonomi yang diperoleh.

Sebagai konsekuensi atas kondisi yang disebut tadi, maka faktor – faktor berikut ini diperhitungkan dalam menentukan umur manfaat dari suatu aset tetap yaitu:

  • Perkiraan daya pakai. Daya pakai dinilai dengan merujuk pada kapasitas atau kemampuan fisik asset tetap dalam menghasilkan  sesuatu.
  • Perkiraan keausan fisik. Bergantung pada faktor pengoperasian aset tetap seperti Jumlah penggiliran (shift) penggunaan aset tetap. Dan program perbaikan dan pemeliharaannya serta perawatan  ketika aset tidak digunakan.
  • Keusangan teknis atau keusangan komersial. Yang diakibatkan oleh perubahan atau peningkatan produksi atau karena perubahan permintaan pasar atas produk atau jasa yang dihasilkan oleh aset tersebut.
  • Pembatasan hukum atau yang serupa atas penggunaan aset, seperti berakhirnya waktu penggunaan terkait sewa.
Penyusutan aset tetap dimulai pada saat aset tetap berada pada kondisi dan lokasi yang diingikan agar aset tetap siap digunakan sesuai keinginan dan maksud manajemen.

Penyusutan dapat dihentikan lebih awal jika aset tetap tersebut diklasifikasikan sebagai aset yang dimiliki untuk dijual. Atau aset tetap tersebut dihentikan pengakuannya karena alasan tertentu.

Penyusutan tidak berhenti pada saat aset tetap tersebut tidak digunakan atau dihentikan penggunaannya kecuali telah habis disusutkan. jika metode penyusutan aset tetap yang digunakan adalah metode pemakaian (seperti metode unit produksi), maka penyusutan akan menjadi nol jika tidak ada produksinya.

Saat perolehan, perusahaan harus menentukan masa manfaat dan tiap akhir tahun buku, nilai residu harus di review ulang. Jika hasilnya berbeda dengan estimasi sebelumnya, maka perbedaan diperlakukan sebagai perubahan estimasi akuntansi (PSAK 25).


Beberapa Metode penyusutan aset tetap yang dapat diterapkan

Seperti yang tercantum dalam PSAK 16;62, dimana berbagai metode penyusutan aset tetap dapat digunakan untuk mengalokasikan jumlah tersusutkan dari aset tetap secara sistematis selama umur manfaatnya.

Metode penyusutan aset tetap yang berlaku umum tersebut antara lain:

Berdasarkan waktu:

  • Metode penyusutan aset tetap garis lurus (Straight line method).
  • Metode penyusutan aset tetap jumlah angka tahun (Sum of the years digits method).
  • Metode penyusutan aset tetap saldo menurun ganda (Double declining balance method).

Berdasarkan penggunaan:

  • Metode penyusutan aset tetap jam jasa (Service hours method).
  • Metode penyusutan aset tetap jumlah unit produksi (Sum of the unit method).
Namun pada PSAK 16;62 hanya disebutkan 3 metode yang diatur yaitu Metode garis lurus, Metode saldo menurun dan Metode Jumlah unit produksi.

Umumnya dalam aktivitas perusahaan, pembelian aset terjadi pada waktu yang tidak sama selama periode berjalan. Bisa terjadi pada awal bulan, tengah bulan maupun akhir bulan.

Jika pembelian aset tetap dilakukan sebelum tanggal 15, maka pembelian dianggap terjadi untuk satu bulan penuh. Sehingga pada akhir bulan tersebut dilakukan penyusutan atas aset tetap tersebut.

Namun jika pembelian dilakukan setelah tanggal 15 atau sesudahnya, maka pembelian pada bulan tersebut dianggap sebagai pembelian bulan berikutnya. Perhitungan dan penyusutan dilakukan akhir bulan berikutnya.


Metode penyusutan aset tetap garis lurus (Straight line method)

Metode garis lurus (straight line method) merupakan metode penyusutan aset tetap yang digunakan jika manajemen mengestimasi manfaat aset tetap yang akan diperoleh secara merata selama masa manfaat.

Dimana beban penyusutan per tahun dihitung dengan cara sebagai berikut:

metode penyusutan aset tetap
Rumus metode penyusutan aset tetap garis lurus

Ilustrasi: Sebuah aset tetap mesin dibeli seharga 500.000.000 pada tanggal 5 Januari 2021, akan digunakan dengan masa manfaat 5 tahun. Diestimasikan nilai residunya adalah 25.000.000 di akhir tahun kelima. Maka penyusutannya per tahun menggunakan metode penyusutan aset tetap garis lurus adalah

Beban penyusutan pertahun = 1/5 x (Rp.500.000.000 – Rp.25.000.000) = Rp.95.000.000

Apabila di persentase, maka dengan masa manfaat 5 tahun besaran penyusutan 20% per tahun

metode penyusutan aset tetap
Metode penyusutan aset tetap garis lurus


Seperti contoh diatas untuk bulan - bulan berikutnya pada laporan keuangan interim. Jika tidak ada perubahan terhadap nilai revaluasi dan atau nilai residu, maka beban penyusutan akan sama sampai akhir masa manfaat.


Metode penyusutan aset tetap jumlah angka tahun (Sum of the years digits method)

Metode penyusutan aset tetap ini menghasilkan beban penyusutan yang menurun dalam tiap tahun berikutnya.

Dalam metode penyusutan aset tetap jumlah angka tahun (Sum of the years digits method) ini merupakan skema ilmu hitung. Untuk membuat besarnya beban penyusutan periodik dari satu periode ke periode berikutnya. Maka seluruh nilai perolehan aset tetap yang dapat disusutkan dialokasikan sepanjang umur manfaat aset tetap.

Penghitungan pembagi menggunakan rumus ( n ( n + 1 ) ) / 2

Ilustrasi: Sebuah aset tetap mesin dibeli seharga 500.000.000 pada tanggal 5 Mei 2020, akan digunakan dengan masa manfaat 5 tahun. Diestimasi nilai residunya adalah 25.000.000 di akhir tahun kelima. Maka pembagi per tahun dihitung ( 5 ( 5 + 1 ) ) / 2 = 15.

metode penyusutan aset tetap
Metode penyusutan aset tetap jumlah angka tahun


Metode penyusutan aset tetap saldo menurun ganda (Double Declining Balance Method)

Metode penyusutan aset tetap saldo menurun ini memberikan pembebanan pada awal masa manfaat lebih besar. Dan kemudian akan terus menurun secara periodik hingga akhir masa manfaat. Pada metode ini prinsipnya sama dengan metode jumlah angka tahun, dimana beban penyusutannya menurun setiap tahunnya.

Beban penyusutan setiap periode dihitung dengan menggunakan persentase penyusutan tetap terhadap nilai yang tercatat (nilai buku) pada awal periode penyusutan tersebut. Umumnya dilakukan perhitungan persentase penyusutan adalah dua kali dari persentase metode garis lurus. Jika umur manfaat 5 tahun maka 2 x (100% : 5 metode garis lurus). Penyusutan dilakukan dengan cara nilai buku yang tercatat pada periode tersebut di kali persentase.

Pada metode ini, besarnya nilai residu tidak dimasukan dalam rumus perhitungan penyusutan. Dan pada tahun terakhir umur manfaat, penyusutan harus disesuaikan agar nilai buku tidak lebih kecil atau sama dengan nilai residu.

Ilustrasi: Sebuah aset tetap mesin dibeli dengan biaya perolehan Rp.500.000.000 pada tanggal 5 Januari 2021, akan digunakan dengan masa manfaat 5 tahun. Disetimasikan nilai residu atau nilai sisanya adalah Rp.25.000.000 di akhir tahun kelima. Persentase penyusutan per tahun adalah 40%. Maka penyusutannya per tahun menggunakan metode penyusutan aset tetap saldo menurun ganda adalah

metode penyusutan aset tetap
Metode penyusutan aset tetap saldo menurun ganda


Sekali lagi perlu diingat, untuk metode ini penyusutan pada akhir masa manfaat harus disesuaikan agar tidak lebih kecil dari nilai residu atau nilai sisa.


Metode penyusutan aset tetap jam jasa (Service hours method)

Pada metode penyusutan aset tetap jam jasa ini menggunakan umur manfaat bukan berdasarkan waktu atau tahun, melainkan penggunaan jam jasa. Jadi dalam metode ini dibutuhkan estimasi umur manfaat berupa jumlah jam jasa yang dapat dihasilkan.

Manajemen akan menentukan estimasi jam jasa per tahun, kemudian dibandingkan dengan estimasi total jam jasa dan dikalikan biaya perolehan yang sudah dikurangi nilai residu.

Beban penyusutan = (jam jasa per tahun / total jam jasa) x (Biaya perolehan – nilai residu)

Ilustrasi: Sebuah aset tetap mesin dibeli dengan biaya perolehan Rp.500.000.000 pada tanggal 5 Januari 2021. Disetimasikan nilai residunya adalah Rp.25.000.000. Manajemen memperkirakan atau asumsi aset tetap mesin dapat beroperasi selama 25.000 jam dengan detail sebagai berikut:


Asumsi tahun pertama     5.300 jam
Asumsi tahun kedua        5.200 jam
Asumsi tahun ketiga        5.100 jam
Asumsi tahun keempat    4.800 jam
Asumsi tahun kelima       4.600 jam
Total                                25.000 jam

metode penyusutan aset tetap
metode penyusutan aset tetap jam jasa


Metode penyusutan aset tetap jumlah unit produksi (Sum of the unit method)

Tidak berbeda jauh dengan metode jam jasa, pada metode penyusutan aset tetap jumlah unit produksi mempunyai cara yang sama dalam menghitung penyusutan. Yang membedakan hanya penggunaan faktor jumlah unit produksi atau output yang dapat dihasilkan.

Dimana manajemen melakukan estimasi atas output yang dihasilkan per tahun dan dibandingkan estimasi total output. Kemudian dikalikan dengan biaya perolehan dikurangi nilai residu.

Beban penyusutan = (output unit produksi pertahun / total output unit produksi) x (Biaya perolehan – nilai residu)

Ilustrasi: Sebuah aset tetap mesin dibeli dengan biaya perolehan Rp.500.000.000 pada tanggal 5 Januari 2021. Disetimasi nilai residunya adalah Rp.25.000.000. Manajemen memperkirakan atau asumsi aset tetap mesin dapat beroperasi selama 25.000 jam dengan detail sebagai berikut:


Asumsi tahun pertama    50.000 unit
Asumsi tahun kedua        48.000 unit
Asumsi tahun ketiga        48.000 unit
Asumsi tahun keempat   46.000 unit
Asumsi tahun kelima      45.000 unit
Total                                237.000 unit


metode penyusutan aset tetap
Metode penyusutan aset tetap unit produksi


Perlunya melakukan review ulang metode penyusutan aset tetap tiap akhir tahun buku

Tiap akhir periode, perusahaan harus melakukan review atas jumlah yang dapat disusutkan, periode penyusutan dan metode penyusutan atas semua aset tetap. Review dilakukan minimum setiap akhir tahun buku. Jadi review ini juga dilakukan untuk nilai residu atau nilai sisa dan umur manfaat aset tetap.

Jika hasil review berbeda dengan estimasi sebelumnya, maka perbedaan tersebut diperlakukan sebagai perubahan estimasi akuntansi sesuai dengan PSAK 25.

Ilustrasi: Perusahaan menerapkan metode penyusutan aset tetap saldo menurun. Pada akhir tahun kedua setelah dilakukan review akhir tahun buku, manajemen memutuskan bahwa metode penyusutan aset tetap garis lurus lebih mencerminkan pola konsumsi manfaat aset tetap. Masa manfaat yang tersisa 3 tahun diubah menjadi 4 tahun. Nilai residu masih sesuai dan tidak ada perubahan.

Pada akhir tahun kedua nilai tercatat Rp.180.000.000 (lihat ilustrasi metode saldo ganda menurun). Maka beban penyusutan tahun ke-3, ke-4, ke-5 dan ke-6 dihitung sebagai berikut:

Beban penyusutan per tahun = ¼ x (Rp.180.000.000 – Rp25.000.000) = Rp.38.750.000.

Selanjutnya pada tahun ke-4, ke-5 dan ke-6 jika tidak ada perubahan nilai revaluasi dan atau nilai residu, maka beban penyusutan akan sama sampai umur manfaat berakhir.