Thursday, September 24, 2020

Jurnal Penerimaan Bank dan Jurnal Pengeluaran Bank, pencatatan transaksi atas kas disimpan di bank

Jurnal penerimaan bank dan jurnal pengeluaran bank

Jurnal penerimaan bank dan jurnal pengeluaran bank merupakan pencatatan atas transaksi kas yang tersimpan di bank. Pencatatan transaksi Bank tidak beda jauh dengan pencatatan transaksi kas. Karena transaksi bank dikategorikan sebagai bagian Kas dan yang setara dengan kas (Cash & Cash Equivalen). Meskipun perlakuan pencatatan serupa dengan kas, namun beberapa hal berbeda karena keterlibatan institusi lain yaitu bank sebagai penyimpan dana. Bukti pendukung atas pencatatan transaksi bank berasal dari formulir yang dikeluarkan oleh eksternal perusahaan yaitu bank.


Pengelolaan kas menggunakan fasilitas perbankan

Seperti yang sudah saya jelaskan dalam tulisan saya sebelumnya mengenai sistem kas kecil dan jurnal kas besar, bahwa pada umumnya perusahaan meminimalkan resiko pengelolaan dan penyimpanan uang tunai dalam jumlah besar di kantor perusahaan. Perusahaan menggunakan jasa perbankan untuk memfasilitasi dalam pengelolaan dan penyimpanan uang tunai. Dengan menerapkan prosedur penerimaan kas atas penjualan tunai, dimana setiap penerimaan wajib setor ke bank pada H+1 setelah transaksi. Begitu pula dengan penerimaan atau pembayaran piutang dari customer yang akan selalu diarahkan pembayarannya melalui fasilitas perbankan.

Tidak berbeda dengan pengeluaran kas dalam jumlah besar, perusahaan menggunakan fasilitas bank dalam melakukan pembayaran ke pihak lain. Sehingga setiap transaksi pengeluaran atau pembayaran dengan jumlah besar akan selalu menggunakan sarana yang disediakan oleh bank. Semua itu dilakukan untuk meminimalkan resiko atas kehilangan uang tunai dan resiko terjadinya penyalahgunaan. Meskipun tidak bisa dipungkiri, masih ada beberapa celah atas sarana yang disediakan bank yang dicurangi pihak –pihak internal perusahaan. Dan dari pengalaman saya selama ini saya menemukan fraud yang terjadi atas penyalahgunaan fasilitas perbankan. Namun hal itu bisa diminimalkan dengan pengendalian internal atas bank dan penerapan prosedur yang ketat.


Jurnal transaksi bank berdasarkan bukti transaksi dan bukti pendukung dari bank

Pada tulisan ini, saya fokus mengupas tentang pencatatan jurnal transaksi bank, atas penerimaan dan pengeluaran kas di bank. Penyimpanan kas di bank lazim dikenal dengan istilah Cash In Bank, dimana penggunaan dana yang tersimpan dalam bank menggunakan fasilitas yang disediakan oleh pihak bank. Beberapa fasilitas bank baik yang berwujud fisik maupun yang berupa fasilitas digital. Setiap sarana akan memberikan bukti pendukung atas transaksi baik penerimaan bank maupun pengeluaran bank.

Apabila kita menggunakan pengendalian internal dengan meminimalkan resiko pengeluaran kas dengan menerapkan Sistem kas kecil. Serta menggunakan pengendalian internal kas untuk menerapkan penerimaan kas atas penjualan tunai. Maka kita juga bisa menerapkan pengendalian internal atas penerimaan dan pengeluaran bank salah satunya adalah dengan memisahkan rekening bank untuk penerimaan dan pengeluaran. Nanti akan saya bahas pada tulisan tentang pengendalian internal bank.

Di Era saat ini fasilitas internet bank memudahkan kita memantau penerimaan dan pengeluaran dana di bank. Namun hal ini justru melupakan prinsip dasar pencatatan atas transaksi. Dimana setiap transaksi dicatat / di jurnal berdasarkan bukti transaksi dan bukti pendukung yang sudah diverifikasi dan divalidasi. Ada sebuah kesalahan besar yang dilakukan oleh staff akuntansi karena kurangnya pemahaman atas jurnal. Dari pengalaman, saya menemukan ada staff melakukan jurnal atas transaksi bank terutama pada jurnal pengeluaran bank. Mereka melakukan jurnal pengeluaran bank berdasarkan rekening Koran bank yang dicetak harian bukan berdasarkan bukti transaksi dan bukti pendukung. Sehingga staff ini mengabaikan bukti transaksi dan bukti pendukung, dan hanya berpatokan kebenaran atas rekening Koran bank harian. Pemikiran dari staff ini menganggap kalau jurnal penerimaan bank dan pengeluaran bank bisa berdasarkan hanya pada rekening Koran. Nanti kita bisa simak pada jurnal penerimaan dan pengeluaran bank berikut ini.


Jurnal Penerimaan Bank

Jurnal penerimaan bank menggunakan rekening koran harian untuk mengontrol apakah dana memang benar sudah masuk, dengan catatan itu hanya untuk bentuk pembayaran transfer antar bank. Pengakuan atas penerimaan itu juga harus didukung dengan konfirmasi customer dengan mengirimkan bukti pendukung berupa copy bukti transfer baik slip setoran maupun internet banking. Hal ini dilakukan karena dalam rekening Koran sering kali tidak jelas uraian transfer dari siapa dan untuk apa, karena customer tidak memberikan keterangan secara terinci.

Saat ini sudah umum sebuah perusahaan menerapkan pengendalian internal pada transaksi bank dengan memisahkan rekening bank untuk penerimaan pendapatan dan rekening bank untuk pengeluaran/biaya perusahaan. Pada umumnya bagian piutang mempunyai akses melihat rekening Koran di internet banking. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pengecekan atas uang masuk di bank. Namun tidak seharusnya bagian piutang boleh melihat transaksi pengeluaran dari bank.

Jurnal penerimaan bank pada umumnya merupakan transaksi penerimaan seperti berikut ini:

  1. Penerimaan atas penjualan tunai yang dibayarkan melalui transfer.
  2. Penerimaan atas Pembayaran piutang yang dibayarkan melalui transfer.
  3. Penerimaan atas Pembayaran piutang yang dibayarkan menggunakan cek / BG.
  4. Penerimaan atas pinjaman atau hutang bank.
Transaksi ini dilakukan jurnal harian berdasarkan bukti transaksi dan bukti pendukung. Terkait dengan penerimaan bank berupa bunga bank dilakukan jurnal setelah membuat rekonsiliasi bank. Untuk perbedaan bukti transaksi dan bukti pendukung bisa disimak pada tulisan tentang Formulir dalam Sistem Informasi Akuntansi, alatpenting dalam sebuah transaksi.


1. Jurnal penerimaan bank – atas penjualan tunai yang dibayarkan secara transfer

Jurnal penerimaan bank ini dilakukan berdasarkan bukti transaksi dan bukti pendukung berupa copy bill / nota / faktur dengan slip setoran bank / bukti transfer. Semua formulir bukti transaksi dan bukti pendukung sudah divalidasi dan dicek jumlahnya dengan di rekening koran /internet banking.


Jurnal penerimaan bank
Contoh Jurnal penerimaan bank melalui transfer


2. Jurnal penerimaan bank – Penerimaan atas Pembayaran piutang yang dibayarkan melalui transfer

Sama halnya dengan Jurnal penerimaan bank pembayaran penjualan tunai melalui transfer. Jurnal penerimaan bank atas pembayaran piutang melalui transfer juga berdasarkan bukti transaksi dan bukti pendukung berupa copy bill / nota / faktur dengan slip setoran bank / bukti transfer. Dan semua formulir bukti transaksi dan bukti pendukung sudah divalidasi dan dicek jumlahnya dengan di rekening Koran /internet banking.


Jurnal penerimaan bank
Contoh Jurnal penerimaan bank atas piutang 


3. Jurnal penerimaan bank - Penerimaan atas Pembayaran piutang menggunakan cek / BG

Pada jurnal penerimaan bank atas pembayaran piutang menggunakan cek bilyet giro atau BG, jurnal dilakukan pada saat BG / Cek sudah kliring atau disetorkan. Piutang dapat dianggap lunas dengan mengganti sebagai piutang cek / BG, hal ini juga berfungsi sebagai kontrol atas penerimaan cek / BG yang disimpan. Selain itu memudahkan bagian piutang melakukan penagihan. Secara detail akan saya bahas dalam pengendalian internal piutang.


Jurnal penerimaan bank
Contoh Jurnal penerimaan kas atas piutang cek BG

Apabila ada informasi dari bank bahwa cek atau BG yang diterima tidak terdapat dana, bisa dilakukan jurnal balik. Jurnal balik tersebut untuk memunculkan kembali piutang yang dianggap belum terbayar karena cek atau BG tidak dapat diuangkan. Cek / BG tersebut tidak ada dana bukan saja karena kesengajaan tapi juga bisa karena ketidaksengajaan. Ketidaksengajaan terjadi bisa karena pengaturan cashflow customer yang tidak baik.


4. Jurnal penerimaan bank - Penerimaan atas pinjaman atau hutang bank

Pada jurnal ini perlu diperhatikan terkait rekening bank karena akan ada 2 rekening bank yang berbeda meskipun dengan bank yang sama. Pada umumnya apabila bank memberikan pinjaman atau hutang maka akan membuat rekening pinjaman bank. Dimana saldo awal pada rekening pinjaman / hutang tersebut nilainya minus sejumlah pinjaman. Sangat disarankan agar rekening bank pinjaman tersebut tidak digunakan transaksi apapun selain hanya untuk melakukan pembayaran hutang bank dan bunga pinjaman. Pada jurnal ini akan melibatkan 2 rekening bank yaitu:

  1. Rekening bank untuk menerima dana pinjaman
  2. Rekening bank untuk mencatat pinjaman atau hutang
Namun pada jurnal tercatat pada 2 akun atau COA dengan posisi satu di Aktiva (akun bank) dan satunya lagi di Pasiva (Akun Hutang Bank). Akun hutang bank ini salah satu pendukungnya adalah rekening Koran pinjaman bank.


Jurnal penerimaan bank
Jurnal penerimaan bank atas pinjaman bank

Jurnal Pengeluaran Bank

Jurnal atas transaksi – transaksi pengeluaran bank lebih mudah dibandingkan jurnal penerimaan Bank. Karena setiap pengeluaran kas baik kas ditangan (Cash on Hand) maupun kas di bank (cash in Bank) sebagian besar kaitannya dengan pembiayaan dan pembayaran hutang. Sehingga dalam melakukan jurnal pengeluaran bank, akun biaya atau hutang dilawankan dengan akun bank. Meskipun sarana pembayaran yang dilakukan berbeda. Hanya tinggal diberikan deskripsi tambahan no cek / BG apabila menggunakan sarana pembayaran cek / BG.

Rumitnya pengeluaran bank bukan pada pencatatan dan jurnal melainkan dalam hal pengelolaan cash flow. Bagaimana menentukan skala prioritas, jadwal pembayaran, verifikasi dan otorisasi berlapis harus ditentukan dan diatur dengan baik. Jadi kontrol nya harus lebih ketat karena terkait pemakaian kas di bank, yang memungkinkan terjadinya korupsi dan kolusi. Hal ini diperlukan pengendalian internal atas pengeluaran bank serta prosedur atau SOP pengeluaran bank yang baik dan mumpuni.


Perlunya Rekonsilasi Bank

Diatas merupakan beberapa contoh atas transaksi dan jurnal penerimaan dan pengeluaran bank yang sering kali terjadi. Namun masih ada beberapa transaksi yang terjadi dengan frekuensi yang sangat jarang. Seperti misalnya penerimaan atas penjualan aset, penerimaan atas refund pembelian dan lain sebagainya. Perlu diingat bahwa pembuatan COA atau akun bank harus dipisahkan berdasarkan nomer rekening bank. Hal ini dilakukan untuk memudahkan melakukan Jurnal Rekonsiliasi Bank. Rekonsiliasi Bank dilakukan untuk merekonsiliasi pencatatan pihak perusahaan dengan pencatatan pihak bank. Hal ini dilakukan karena adanya perbedaan cut off atau waktu pencatatan antara pihak perusahaan dengan pihak bank. Serta kemungkinan terjadinya kesalahan pencatatan dan perbedaan saldo yang selalu terjadi di akhir bulan. Lebih jelasnya akan kita ulas di tulisan selanjutnya.